Pencarian

Inalum Hemat Devisa Rp9 T per Tahun lewat Hilirisasi Bauksit

Rabu, 14 Oktober 2026 • 11:24:31 WIB
Inalum Hemat Devisa Rp9 T per Tahun lewat Hilirisasi Bauksit
Fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, beroperasi penuh untuk mengolah bauksit menjadi alumina.

BANTEN — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berpotensi menghemat devisa negara Rp7 triliun hingga Rp9 triliun per tahun setelah mampu memproduksi alumina sendiri dari hilirisasi bauksit. Penghematan itu muncul karena Inalum tak lagi mengimpor alumina sebagai bahan baku aluminium. Langkah ini memperkuat kemandirian rantai pasok aluminium nasional yang selama ini bergantung pada pasokan global.

Arif Haendra, Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, mengungkapkan bahwa fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, kini sudah beroperasi penuh. Anggota holding pertambangan MIND ID ini sebelumnya harus membeli alumina dari pasar internasional untuk menopang produksi aluminiumnya.

Dari Tambang ke Aluminium: Rantai yang Kini Utuh

Integrasi rantai industri bauksit Inalum menghubungkan tiga tahap sekaligus: penambangan bijih bauksit, pemurnian menjadi alumina, lalu pengolahan menjadi aluminium. Pada sisi hulu, pasokan bijih ditopang satu izin usaha pertambangan (IUP) milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan enam IUP anak perusahaan Antam.

Bijih dari tambang-tambang itu masuk ke fasilitas SGAR untuk diolah menjadi alumina. Kapasitas produksi SGAR fase I mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Sebanyak 550.000 ton dialokasikan untuk Inalum lewat perjanjian jangka panjang, sedangkan 450.000 ton sisanya dijual ke pasar ekspor.

Pemisahan alokasi itu penting. Inalum mendapat jaminan pasokan bahan baku, sementara sisa kapasitas tetap menghasilkan pendapatan dari penjualan ke luar negeri. Selama ini alumina menjadi komponen biaya terbesar dalam produksi aluminium primer, sehingga penguasaan sumber bahan baku langsung memangkas ketergantungan pada fluktuasi harga global.

Mengapa Hilirisasi Bauksit Penting bagi Indonesia

Indonesia lama mengekspor bijih bauksit mentah dan mengimpor alumina olahan. Pola itu membuat nilai tambah dinikmati negara lain, sementara industri dalam negeri menanggung biaya impor yang membebani neraca perdagangan. Hilirisasi membalik posisi tersebut: sumber daya mineral diolah di dalam negeri sebelum dimanfaatkan industri manufaktur.

Bagi Inalum, ketersediaan alumina domestik menjadi modal untuk meningkatkan daya saing. Aluminium merupakan bahan baku sejumlah sektor yang sedang tumbuh, mulai dari manufaktur kendaraan listrik (EV), konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan. Permintaan aluminium diperkirakan naik seiring ekspansi industri EV dan pembangunan infrastruktur energi.

Arif menyebut penghematan devisa itu sebagai hasil langsung dari kepemilikan fasilitas pemurnian sendiri. “Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif, dilansir ANTARA, Rabu (14/10).

Enam Proyek di Mempawah dan Kelanjutan SGAR Fase II

Kawasan hilirisasi bauksit di Mempawah mencakup enam proyek: lima di antaranya milik Grup MIND ID dan satu proyek Pelindo. Kehadiran Pelindo menunjukkan bahwa ekosistem ini tidak hanya soal tambang dan smelter, tetapi juga menyangkut logistik pengiriman bahan baku dan produk jadi.

Pengembangan akan berlanjut ke SGAR fase II. Menurut Arif, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan alias bankable feasibility study (BFS) untuk proyek tersebut telah rampung dan akan masuk tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dalam waktu dekat.

Jika fase II terealisasi, kapasitas pemurnian alumina nasional bertambah dan porsi ekspor bisa meningkat. Namun, keputusan investasi itu masih menunggu persetujuan akhir dari pemegang saham dan mitra pembiayaan.

Bagi pembaca industri, angka Rp7 triliun hingga Rp9 triliun per tahun memberi gambaran konkret soal nilai hilirisasi: bukan sekadar pengurangan impor, tetapi perbaikan posisi neraca perdagangan yang bisa dipakai negara untuk kebutuhan lain. Inalum dan Antam kini memegang kendali atas rantai yang sebelumnya terputus di tengah.

Follow www.katabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks