Pencarian

BMKG Sebut Awan Hujan di Sumatra dan Kalimantan Meningkat Sepekan ke Depan

Senin, 26 Oktober 2026 • 16:21:31 WIB
BMKG Sebut Awan Hujan di Sumatra dan Kalimantan Meningkat Sepekan ke Depan
BMKG memprediksi pertumbuhan awan hujan di Sumatra dan Kalimantan meningkat hingga lima hari ke depan.

BANTEN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah melonjak tinggi hingga lima hari ke depan. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dry ice dan garam (NaCl) menjadi pemicu utama terbentuknya awan di dua wilayah itu. Peningkatan ini bertepatan dengan masuknya musim hujan yang mundur 20–30 hari akibat El Nino.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah tinggi sejak Senin (26/10) hingga lima hari berikutnya. Untuk Sumatra Selatan, jendela pertumbuhan awan diperkirakan mulai sehari setelahnya. Pernyataan itu disampaikan Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Mengapa Awan Hujan Tumbuh Cepat

Pemerintah menjalankan OMC secara masif di wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas cukup banyak. Operasi ini menggabungkan penyemaian dry ice dengan garam NaCl, dan menurut Faisal dilakukan atas arahan Presiden.

BMKG mengerahkan pesawat Hercules, CN-295, hingga armada lain milik TNI untuk mendukung operasi. Sebelumnya, hujan intensitas tinggi dilaporkan mengguyur Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan setelah OMC diterapkan.

Cara Kerja Dry Ice dan Garam NaCl

Faisal menjelaskan, dry ice dipakai untuk membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki. Setelah asap naik, matahari memicu penguapan dan pembentukan awan hujan. Tahap berikutnya, BMKG menyemai awan dengan NaCl.

Menurut Faisal, selama dua sampai empat minggu sebelum musim hujan, kebakaran meningkat di sejumlah lokasi. Karena itu OMC diarahkan untuk mengurangi kepekatan asap sekaligus mempercepat pertumbuhan awan.

Musim Hujan Mundur 20–30 Hari

Sebagian wilayah Indonesia baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember, dengan puncak pada Desember, Januari, dan Februari. Faisal menyebut musim hujan rata-rata mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20–30 hari, akibat pengaruh El Nino.

Sifat hujan tahun ini normal bila dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tetapi durasinya lebih pendek. "Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," ujar Faisal.

Ia menambahkan, hujan akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih singkat. "Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," katanya.

Kolaborasi Lintas Instansi

BMKG bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kunjungan itu untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap.

Bagi pengguna smartphone di ketiga provinsi, pantauan cuaca harian dan peringatan dini BMKG menjadi rujukan penting sebelum beraktivitas luar ruang. Pelaku bisnis digital yang bergantung pada pengiriman barang juga perlu menyesuaikan jadwal logistik dengan pola hujan berdurasi pendek namun intens.

Follow www.katabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks