Pencarian

Rupiah Melemah 0,51% ke Rp18.117 per Dolar AS, Tertekan Harga Minyak dan Tunggu The Fed

Senin, 26 Oktober 2026 • 13:55:31 WIB
Rupiah Melemah 0,51% ke Rp18.117 per Dolar AS, Tertekan Harga Minyak dan Tunggu The Fed
Nilai tukar rupiah melemah 0,51% ke Rp18.117,6 per dolar AS pada Senin (26/10/2026) pukul 12.00 WIB.

BANTEN — Nilai tukar rupiah melemah 0,51% ke Rp18.117,6 per dolar AS pada Senin (26/10/2026) pukul 12.00 WIB, turun 92 poin dari penutupan sebelumnya Rp18.025,6. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak Brent ke US$115,16 per barel akibat serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi, plus posisi rupiah yang sudah mendekati level terendah 52 minggu.

Data Investing.com menunjukkan USD/IDR dibuka di Rp18.025,6 dan bergerak dalam rentang Rp18.037,8 hingga Rp18.128,9 sepanjang sesi pagi. Posisi rupiah kini hanya berjarak tipis dari level tertinggi 52 minggu di Rp18.197,5 yang tercatat sebelumnya.

Dalam sepekan, dolar AS menguat 0,46% terhadap rupiah. Dalam sebulan, kenaikannya mencapai 1,30%, sementara dalam setahun terakhir dolar AS tercatat menguat 9,18%.

Minyak Brent di Atas US$100 Jadi Pemicu Utama

Harga minyak Brent berada di US$115,16 per barel pada Senin pagi, mengutip Reuters melalui CNBC Indonesia. Lonjakan terjadi setelah serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi pada akhir pekan lalu.

Sebagai net importir minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membiayai impor energi. Kebutuhan valas yang membengkak inilah yang menekan rupiah.

"Eskalasi Timur Tengah telah mendorong harga minyak bertahan di atas US$100 per barel," kata Lukman Leong dari Doo Financial Futures, dikutip dari Infobanknews.

Arus Keluar Dana Asing Masih Membebani

Investortrust mencatat investor asing membukukan jual bersih Rp94,86 triliun sepanjang 2026 di pasar saham. Angka itu jauh melampaui aliran masuk ke SBN sebesar Rp43,31 triliun dan SRBI Rp100,42 triliun yang dilaporkan Bank Indonesia.

Menurut Lukman, outflow dari pasar saham masih terus menjadi faktor penekan rupiah. Kombinasi keluarnya dana portofolio dan kebutuhan impor energi menciptakan tekanan ganda terhadap mata uang lokal.

Pasar Menanti Keputusan The Fed Rabu Pekan Ini

The Fed diperkirakan menahan suku bunga di rentang 3,75%-4,00%, lapor Rio Times. Namun pasar Polymarket memberi peluang 76,5% untuk kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir 2026.

Indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,63 pada Senin pagi. Dolar yang masih perkasa terhadap mata uang global menambah beban bagi rupiah dan mata uang emerging market lainnya.

Rupiah tercatat menjadi mata uang ketiga terlemah di Asia pada sesi pagi, menurut Viva.

BI Sebut Tekanan Masih Terkelola

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola meski sempat menembus Rp18.000.

"Pasar secara bertahap mulai mencerna sentimen MSCI," ujar Erwin, dikutip dari CNBC Indonesia.

Proyeksi jangka pendek datang dari Ibrahim Assuaibi, analis Traze Andalan Futures. Ia memperkirakan rupiah bisa melemah hingga Rp18.200 pada pekan terakhir Oktober, dikutip dari Bisnis.com.

Bagi investor, pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi menekan emiten dengan beban utang valas tinggi dan importir bahan baku. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas bisa menikmati tambahan pendapatan dari selisih kurs.

Follow www.katabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pintu.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks