TANGERANG — Iskandar menyebut banjir sudah menjadi persoalan tahunan warga Desa Cisereh sejak ia menjabat sebagai kepala desa pada 2019. Hingga kini, menurutnya, belum ada normalisasi sungai yang dikerjakan instansi terkait.
Ia menduga penyempitan aliran Sungai Cipayeum berkaitan dengan pendirian bangunan di kawasan garis sempadan. Sejumlah perusahaan disebut berada di sekitar kawasan tersebut, di antaranya PT Nagata, PT SRKI, dan PT Mega Sumber Logam.
Bantaran Sungai Berubah Jadi Bangunan dan Beton
Iskandar menjelaskan, aliran Sungai Cipayeum kini jauh lebih sempit dibandingkan sebelumnya. Area bantaran yang dahulu masih dipenuhi pepohonan sebagian telah berubah menjadi bangunan dan struktur beton.
Perubahan itu, katanya, menurunkan kemampuan sungai menampung dan mengalirkan debit air saat hujan turun. Dampaknya, wilayah Desa Cisereh bisa dilanda banjir hingga tiga kali dalam setahun selama musim hujan.
"Sudah lamanya sedari saya menjabat tahun 2019 dan belum adanya aksi konkret oleh instansi terkait dalam normalisasi sungai. Maka saya minta tolong kepada Gubernur Banten untuk turun ke lokasi ini, karena jika Gubernur hadir maka akan nyata ini wewenang siapa dalam normalisasi Sungai Cipayeum ini," ujar Iskandar di lokasi, Selasa, 3 November 2026.
Warga: Hujan Tidak Deras pun Permukiman Bisa Terendam
Keluhan serupa disampaikan warga setempat, Mustopa (45). Banjir yang berulang membuat masyarakat selalu diliputi kekhawatiran, terutama ketika hujan turun.
Menurut Mustopa, permukiman warga bisa terendam meskipun hujan yang mengguyur wilayah tersebut tidak terlalu deras. Kondisi itu membuat warga berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penanganan menyeluruh.
Normalisasi dan Drainase Jadi Usulan Jangka Pendek
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Iskandar mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Cipayeum dan memperbaiki saluran drainase. Kedua langkah itu dinilai sebagai penanganan jangka pendek.
Dalam jangka panjang, ia mengusulkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti sodetan maupun tandon penampungan air. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko banjir sekaligus mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian warga saat musim kemarau.