LEBAK — Ratusan anak dari keluarga prasejahtera di Kabupaten Lebak bakal menempati gedung baru Sekolah Rakyat di Panggarangan pada akhir Agustus mendatang. Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lebak menyebutkan sebanyak 270 siswa akan langsung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) setelah proses masuk pada 31 Agustus 2026.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Iwan, mengungkapkan bahwa penambahan kuota ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Kementerian Sosial. Sebelumnya, alokasi untuk jenjang SD hanya 25 siswa, SMP 75 siswa, dan SMA 100 siswa. Kini, rinciannya menjadi 30 siswa untuk SD, 120 siswa untuk SMP, dan 120 siswa untuk SMA.
Mayoritas Siswa Sempat Putus Sekolah
Iwan menjelaskan bahwa kebanyakan siswa yang diterima merupakan anak-anak yang sempat putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi orang tua. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah pusat menambah jatah kursi di daerah, termasuk untuk Kabupaten Lebak.
"Kami berharap anak-anak dari keluarga tidak mampu itu lebih semangat belajar di sekolah rakyat itu," kata Iwan di Lebak, Sabtu.
Fasilitas Penunjang di Lahan 8,8 Hektare
Para siswa tahun ajaran 2026/2027 ini tidak hanya akan menempati ruang belajar. Gedung baru di Panggarangan disebut telah dilengkapi beragam fasilitas pendukung, mulai dari asrama, gedung serbaguna, dapur, kantin, rumah ibadah, hingga lapangan olahraga.
Dengan fasilitas yang ada, pihaknya optimistis Sekolah Rakyat mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mandiri, sesuai harapan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
"Kami meyakini melalui pendidikan itu dapat memutus mata rantai kemiskinan," ujarnya.
Verifikasi Data Hingga ke Rumah Warga
Ketua Koordinator Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Wahyu, menambahkan bahwa proses seleksi calon siswa dilakukan secara ketat. Petugas melakukan verifikasi dari rumah ke rumah untuk memastikan penerima manfaat adalah keluarga miskin dan miskin ekstrem.
"Kita menyeleksi peserta Sekolah Rakyat itu benar-benar anak dari keluarga desil 1 dan desil 2," jelas Wahyu.
Seorang calon siswa jenjang SMA asal Lebak, Muhamad, mengaku senang akhirnya bisa kembali melanjutkan pendidikan setelah setahun putus sekolah. Ia berharap pendidikan di Sekolah Rakyat dapat mengangkat derajat orang tuanya kelak.