BANTEN — Salisbury FC, klub kasta keenam Liga Inggris, menjalani tur lima hari ke Kuwait untuk menghadapi Al Qadsia di Stadion Mohammad Al-Hamad. Laga ini bagian dari kemitraan strategis dengan pemilik klub Ali Alhamad, yang menilai Salisbury punya nama besar di Kuwait, bahkan melebihi banyak klub Premier League.
Rombongan Salisbury bertolak ke Timur Tengah kurang dari 24 jam setelah menang 2-0 atas Folkestone Invicta di The Mac Stadium. Kemenangan itu disambut nyanyian khas dari tribune Andrews Terrace: "Kuwait away ole, ole" — pertanda perjalanan yang sudah lama dinanti suporter.
Pemain Salisbury, Luke Russe, mengaku tak butuh waktu lama untuk memutuskan ikut serta. "Kami semua langsung bilang, ya, kami ikut. Ini kesempatan unik dan sebagai pemain kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang mewujudkan perjalanan ini," ujarnya.
Al Qadsia Jadi Lawan Pertama di Timur Tengah
Di Kuwait, Salisbury akan berhadapan dengan Al Qadsia, klub tersukses di negara itu dengan lebih dari 50 trofi. Laga digelar Rabu waktu setempat di Stadion Mohammad Al-Hamad yang berkapasitas 22.000 penonton — lebih dari lima kali lipat kapasitas The Mac.
Jadwal padat menanti. Setelah lima hari di Kuwait, skuad asuhan pelatih ini harus kembali ke Inggris untuk menghadapi Dulwich Hamlet di putaran ketiga kualifikasi Piala FA pada Sabtu.
Empat Sponsor Asal Kuwait dan Akun Arab 14.000 Pengikut
Keterikatan Salisbury dengan Kuwait bukan sekadar kunjungan. Empat sponsor klub berasal dari negara tersebut, termasuk sponsor utama di bagian depan jersey dari perusahaan yang mendirikan bank digital syariah pertama di Kuwait. Peralatan latihan tim juga mewakili merek acai populer yang hanya bisa dibeli di sana.
Di Instagram, akun resmi berbahasa Arab Salisbury FC memiliki lebih dari 14.000 pengikut, hanya sedikit di bawah akun berbahasa Inggris mereka. Ketika skuad tiba, sekelompok kecil penggemar menyambut, sementara anak-anak sekolah berinteraksi seolah-olah mereka pemain Premier League.
Alhamad: Salisbury Nama Besar di Kuwait
Pemilik klub, Ali Alhamad, yang membeli Salisbury pada 2025, tidak ragu menyebut posisi klubnya di Kuwait. "Saya bahkan akan melangkah lebih jauh dengan mengatakan Salisbury di Kuwait lebih besar dari banyak tim Premier League di Inggris," katanya.
"Saya tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan ini nama besar di Kuwait. Tapi yang lebih penting dari ukuran adalah kami berkontribusi banyak bagi komunitas lokal di sini, untuk anak-anak dan masa depan sepak bola Kuwait," tambah Alhamad.
Strategi Bisnis di Balik Tur
Seluruh pemain, kecuali Jaiden Bartolo yang sedang bertugas bersama tim nasional, menyetujui perjalanan ini dalam waktu satu jam. Antusiasme itu di luar dugaan Alhamad.
Dari sisi komersial, seluruh penjualan tiket dan pendapatan iklan laga di Kuwait masuk ke kas Salisbury. Klub juga telah membuka kamp musim panas di negara itu dan menggelar sesi trial, di mana tiga pemain terbaik berlatih bersama tim utama selama pramusim.
"Sederhana bagi saya. Kalau Anda melakukan apa yang orang lain lakukan, Anda akan dapat hasil yang sama. Sepak bola di Inggris, terutama non-liga, adalah bisnis yang brutal. Jadi hanya menyuntikkan uang ke klub dengan target promosi adalah emas palsu," ujar Alhamad.
Ia menambahkan, pasar Kuwait, Teluk, dan Arab adalah wilayah besar yang belum tergarap dan haus akan sepak bola Inggris. Selama ini warga Kuwait dikenal sebagai penonton setia Premier League, tetapi sepak bola non-liga masih terdengar asing.
"Orang-orang belum teredukasi bahwa non-liga sebenarnya berkualitas tinggi. Itu juga tujuan tidak langsung dari laga ini," pungkasnya.