Pencarian

Dentuman Erupsi Gunung Anak Krakatau Guncang Pesisir Banten, Abu Tipis Guyur Permukiman Warga

Minggu, 06 September 2026 • 04:56:01 WIB
Dentuman Erupsi Gunung Anak Krakatau Guncang Pesisir Banten, Abu Tipis Guyur Permukiman Warga

KATABANTEN.COM — Suara gemuruh dan dentuman keras akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terdengar hingga kawasan pesisir Provinsi Banten, memicu kepanikan warga yang mulai merasakan perih di mata akibat paparan abu vulkanik tipis. Aktivitas vulkanik di Selat Sunda tersebut tercatat mencapai intensitas tertinggi sepanjang 2026 sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (6/9/2026) pagi. Petugas pos pengamatan meminta masyarakat tetap tenang seraya menegaskan letusan ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Erupsi kali ini memuntahkan material berupa lava fountain atau pancaran lava pijar ke udara. Berdasarkan data pos pengamatan, aktivitas vulkanik tersebut tercatat sebagai letusan dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

Selain suara dentuman yang terus terdengar, hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis mulai turun di sejumlah permukiman warga di Banten. Sejumlah warga pesisir mengeluhkan mata perih saat beraktivitas di luar rumah.

Aparatur Pastikan Tidak Ada Potensi Gelombang Tsunami

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan rangkaian letusan ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Risiko terjadinya tsunami dinilai sangat kecil bahkan nyaris tidak ada, mengingat dimensi fisik tubuh Gunung Anak Krakatau yang relatif kecil saat ini.

Meski menunjukkan peningkatan intensitas letusan yang signifikan, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih bertahan pada Level III Siaga. Status siaga ini belum dinaikkan dan telah berlaku sejak 2 Juli 2026.

Sejak penetapan status Level III pada awal Juli lalu, gunung api aktif tersebut telah mencatatkan lebih dari 240 kali kejadian letusan.

Nelayan Pandeglang Tak Melaut, Radius 3 Kilometer Dikosongkan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang melaporkan getaran dentuman terasa nyata hingga ujung selatan Banten. Pada saat bersamaan, para nelayan setempat memutuskan tidak melaut akibat cuaca buruk dan terpaan angin kencang di perairan.

Petugas pengamat gunung api, Muhammad Dika Nurzaman, mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap beraktivitas normal di luar zona bahaya. Nelayan, wisatawan, maupun warga dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," kata petugas pengamat Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman.

Pada periode pengamatan Sabtu dini hari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, instrumen mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter. Durasi gempa letusan tersebut tergolong panjang, yakni berlangsung selama 21.600 detik.

Kamera CCTV Pemantau Rusak Diterjang Material Kawah

Dahsyatnya lontaran material vulkanik sempat melumpuhkan perangkat pengawasan di dekat titik letusan. Sejumlah alat pemantau vital, termasuk kamera pengawas CCTV yang berada di sekitar bibir kawah, dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat hantaman material erupsi.

Kondisi rusaknya kamera CCTV tersebut sempat membatasi pemantauan visual secara langsung (real-time) dari pos pantau. Kendati demikian, tim vulkanologi terus memonitor fluktuasi aktivitas kegempaan dari stasiun seismik yang masih beroperasi guna memitigasi risiko lanjutan bagi warga di perairan Selat Sunda.

Follow www.katabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks