BANTEN — Skala kerusakan di Assam begitu masif. Menteri Kesehatan India, J.P. Nadda, yang meninjau lokasi bencana pada Kamis pekan lalu, menyebut pemulihan akan memakan waktu lama. "Desa demi desa telah terendam," katanya kepada wartawan, menggambarkan kondisi terkini di distrik-distrik terdampak.
Rumah Terkubur Lumpur dan Evakuasi di Distrik Sivasagar
Distrik Sivasagar menjadi wilayah paling parah. Jurnalis AFP yang turun ke lapangan mendokumentasikan rumah-rumah yang setengah terendam, pohon tumbang, dan kendaraan yang terkubur lumpur. Bencana ini berdampak pada hampir 170.000 jiwa, dengan ribuan lainnya mengungsi ke tempat penampungan sementara karena sungai meluap merendam pemukiman.
Di tengah duka kolektif, Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, membagikan momen personal yang memilukan. Ia mengunggah video saat menghibur orang tua dari seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang tewas ketika mencoba menyelamatkan anjing peliharaannya dari terjangan air bah.
"Tidak ada orang tua yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada anak mereka," tulis Sarma dalam unggahannya pada Jumat.
Penambangan Batubara Ilegal dan Dampak Perubahan Iklim
Banjir musiman sebenarnya adalah siklus tahunan di Assam selama Juni-September. Namun, warga dan pejabat setempat menuding aktivitas penambangan batubara ilegal di negara bagian tetangga, Nagaland, sebagai biang keladi memburuknya bencana. Operasi tambang itu dinilai berdampak pada wilayah yang secara historis tidak rawan banjir.
Para ahli lingkungan memberikan analisis yang lebih luas. Kelompok advokasi Climate Trends menyatakan peningkatan keparahan banjir disebabkan oleh interaksi kompleks antara pemanasan global, perubahan dinamika sungai, dan meningkatnya paparan manusia terhadap risiko. Kombinasi faktor ini membuat banjir lebih sering terjadi, lebih kompleks, dan lebih parah dibanding dekade-dekade sebelumnya.
Kerugian Sektor Pertanian dan Tantangan Pemulihan Jangka Panjang
Sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Assam yang paling terpukul. Data resmi mencatat lebih dari 14.000 hektare lahan pertanian tenggelam, mengancam mata pencaharian ribuan keluarga petani yang menggantungkan hidup pada satu musim tanam. Kerugian ekonomi diperkirakan terus bertambah seiring surutnya air dan dimulainya proses pembersihan lumpur.
Pemerintah negara bagian kini berhadapan dengan tugas berat: memulihkan infrastruktur dasar, memastikan pasokan pangan, dan mencegah wabah penyakit pascabanjir. Pernyataan Menteri Nadda bahwa skala kehancuran "sangat besar sehingga akan membutuhkan waktu" menjadi pengingat bahwa pemulihan Assam tidak akan selesai dalam hitungan minggu, melainkan bulan hingga tahun.