SERANG — Peninjauan sekaligus penilaian Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Provinsi Banten 2026 berlangsung di SMAN 1 Ciruas. Tinawati Andra Soni memimpin langsung rombongan TP PKK Banten dalam kunjungan tersebut.
Kepada dewan guru dan siswa, Tinawati menekankan pentingnya kerja bersama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, bersih, dan asri. Menurutnya, suasana belajar yang sehat berpengaruh langsung pada kualitas pendidikan anak.
"Bagi saya, sekolah sehat adalah kunci untuk menciptakan budaya-budaya baik itu," kata Tinawati.
Tinawati meminta para orang tua dan masyarakat sekitar turut mengawasi segala tindakan yang merugikan anak. Perhatian khusus ia arahkan pada potensi perundungan antar siswa.
Ia mendorong siswa agar saling terbuka dan berani melapor bila menyaksikan tindakan perundungan. Laporan itu, menurutnya, harus segera disampaikan ke guru atau kepala sekolah supaya bisa ditangani cepat.
"Kepada adek-adek siswa, tolong kita saling bantu. Biasanya kalau sesama tamen itu saling terbuka, mau cerita. Terus kalau melihat ada perundungan segera laporkan ke guru atau kepala sekolah supaya bisa langsung ditangani," jelasnya.
Tinawati menegaskan bahwa sekolah sehat bukan sekadar syarat memenuhi perlombaan. Ia menyebut kesehatan lingkungan sekolah sebagai kebutuhan yang harus diterapkan berkelanjutan.
Jika budaya itu terwujud, kata dia, cita-cita mewujudkan generasi emas bisa tercapai. "Kalau itu sudah diwujudkan maka insya Allah cita-cita untuk mewujudkan generasi emas bisa tercapai," pungkasnya.
Rombongan Tinawati juga meninjau asrama siswa asal Papua di SMAN 1 Ciruas. Para siswa itu mengikuti program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) bagi anak dari daerah 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar.
Program tersebut memberi mereka akses pendidikan lanjutan yang bermutu. Pada tahun ini, SMAN 1 Ciruas menerima 14 siswa Papua.
Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Ciruas Mulyadi menyatakan pihaknya berkomitmen mewujudkan pendidikan yang sehat, aman, nyaman, dan asri secara berkelanjutan. Komitmen itu diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia emas.
"Ada tiga hal yang menjadi fokus kita, yakni pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat," kata Mulyadi.
Pendidikan kesehatan dijalankan lewat ekstrakurikuler dan sosialisasi bersama Puskesmas. Materinya mencakup persiapan kesehatan siswa dari masa pra nikah, nikah, hamil, menyusui, hingga pola asupan gizi.
"Karena untuk menciptakan SDM yang unggul itu harus dimulai dari kesehatan," ujarnya.
Untuk pelayanan kesehatan, SMAN 1 Ciruas mengoptimalkan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Setiap kelas juga dilengkapi peralatan P3K standar.
Pembinaan lingkungan sehat diarahkan pada kebersihan harian. Seluruh guru dan siswa diminta membuang sampah pada tempat yang tersedia, dan sebagian sampah diolah kembali.
"Sampah-sampah itu juga sebagian kita olah, dan setiap hari Jumat kita juga melakukan bersih-bersih bersama," jelas Mulyadi.