Enam ruang kelas dan satu perpustakaan di SDN Bangkuyung 2, Kabupaten Pandeglang, Banten, rusak parah dan memaksa puluhan siswa belajar dengan kondisi darurat. Kondisi bangunan yang tak kunjung diperbaiki selama 10 tahun terakhir ini membuat jumlah siswa menyusut drastis menjadi 40 anak.
PANDEGLANG — Puluhan siswa SDN Bangkuyung 2 di Kabupaten Pandeglang terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan fasilitas. Bangunan sekolah yang rusak berat sejak satu dekade terakhir memaksa para guru menggabungkan rombongan belajar dan mengevakuasi murid saat hujan turun.
Kepala SDN Bangkuyung 2, Rohayati, mengungkapkan kondisi bangunan yang memprihatinkan ini membuat orang tua murid khawatir akan keselamatan anak-anaknya. Akibatnya, banyak siswa yang dipindahkan ke sekolah lain sehingga total peserta didik kini hanya tersisa 40 anak.
Enam Ruang Kelas Rusak, Perpustakaan Ambruk Setahun Lalu
Kerusakan parah meliputi enam ruang kelas yang tidak layak pakai. Satu bangunan perpustakaan bahkan sudah ambruk sejak setahun terakhir, memaksa pihak sekolah melakukan penyesuaian darurat untuk tetap menjalankan proses pembelajaran.
"Jumlah siswa tahun ini mengalami penurunan, tersisa 40 anak. Orang tua merasa khawatir dan takut dengan kondisi bangunan yang seperti ini, sehingga banyak anak yang sudah sekolah di sini dipindah ke sekolah lain," kata Rohayati di Pandeglang, Rabu.
Siswa Kelas 2 dan 3 Digabung, Belajar Lesehan di Lantai
Keterbatasan ruang membuat para guru terpaksa menggabungkan rombongan belajar. Siswa kelas 2 dan kelas 3 harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam satu ruangan yang sama.
Minimnya fasilitas yang utuh juga membuat siswa belajar dengan kondisi seadanya. Banyak di antara mereka yang harus duduk lesehan atau tiduran di lantai kelas karena tidak tersedia cukup meja dan kursi.
Atap Bocor, KBM Terhenti saat Hujan Turun
Kondisi atap yang bocor menjadi persoalan lain yang kerap mengganggu proses belajar. Ketika hujan turun, kegiatan belajar mengajar sering terhenti dan guru harus segera mengevakuasi para siswa ke dua ruangan yang dianggap masih cukup aman.
"Sebagai guru dan kepala sekolah, kami selalu merasa waspada dan khawatir. Namun apa daya, karena anak-anak ingin tetap belajar, kami satukan dan fasilitasi seadanya," jelasnya.
Semangat Belajar Siswa Tak Surut, Harapan Perbaikan Menggantung
Meski dihadapkan pada situasi yang tidak ideal, Rohayati menegaskan semangat para siswa untuk mengenyam pendidikan tidak pernah surut. Mereka tidak mengeluh dan tetap antusias mengikuti pelajaran di tengah keterbatasan.
Pihak sekolah berharap Pemerintah Daerah maupun dinas terkait dapat segera memberikan bantuan perbaikan fisik bangunan agar proses belajar mengajar bisa berjalan nyaman dan aman.
"Kami sangat mengharapkan sekolah kami bisa diperbaiki menjadi baik kembali. Agar kami dan anak-anak bisa melaksanakan kegiatan belajar dengan nyaman dan tenang tanpa ada rasa waswas," harap Rohayati.