TANGERANG — Tim pemadam kebakaran terpaksa menggunakan teknik injeksi air bertekanan tinggi untuk memadamkan bara api yang membara di bawah tumpukan puing di lahan kosong Pondok Bahar. Metode yang disebut "suntik" ini menyemprotkan air dengan tekanan 8 hingga 9 bar langsung ke titik terdalam tumpukan sampah.
Komandan Regu 3 UPT Damkar Ciledug, Syuhada, menjelaskan bahwa penyemprotan konvensional dari permukaan tidak efektif menjangkau sumber api. Material yang terbakar mayoritas merupakan limbah kayu dan tripleks yang tertimbun material bangunan padat.
"Karena memang yang terbakar ini buangan sampah yang di atasnya tertutupi puing-puing kedalaman kurang lebih dua meter. Kebanyakan bahan material kayu atau tripleks ada di bawah, makanya perlu waktu untuk memadamkan," ujar Syuhada saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Kebakaran Dipicu Pembakaran Kasur Bekas yang Ditinggalkan
Api pertama kali terlihat sekitar pukul 08.00 WIB. Ketua RW 06 Kelurahan Pondok Bahar, Hernowo, menduga kebakaran berawal dari aktivitas pembakaran sampah berupa kasur bekas yang tidak diawasi pemiliknya.
"Sepertinya ada yang bakar sampah berupa kasur bekas di sini. Nah, tidak ditunggu, bara atau apinya menyebar," kata Hernowo.
Kondisi musim kemarau memperparah situasi. Saat petugas tiba di lokasi, area yang terbakar diperkirakan telah mencapai 80 persen karena material mudah tersulut api.
Pasokan Air Melimpah dari Sungai di Lokasi Kejadian
Meski menghadapi kendala teknis, proses pemadaman tidak terhambat masalah kekurangan air. Lokasi kebakaran yang berada tepat di pinggir kali memungkinkan petugas menarik langsung air sungai menggunakan mesin pompa.
Warga sekitar sempat panik melihat kobaran api yang membesar. Inisiatif warga menghubungi UPT Damkar Ciledug dinilai mempercepat respons tim pemadam yang langsung bergerak ke lokasi.
Hernowo mengapresiasi respons cepat jajaran pemadam kebakaran. "Api berhasil dikendalikan," katanya menegaskan.
Damkar Imbau Warga Tidak Mendekati Lokasi Kebakaran
Pasca kejadian, pihak Damkar mengeluarkan imbauan kepada warga sekitar untuk tidak mendekati area terdampak. Asap pekat yang dihasilkan dari pembakaran material campuran sampah dan puing dinilai berbahaya bagi kesehatan.
"Kami imbau jangan menonton karena memang asapnya cukup pekat dan berbahaya. Cukup di rumah saja, selain itu dilarang melakukan pembakaran liar," tegas Syuhada.
Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko pembakaran sampah sembarangan, terutama di kawasan padat penduduk dan saat musim kemarau. Material limbah yang tertimbun puing terbukti menyulitkan proses pemadaman dan memperpanjang durasi penanganan kebakaran.