TANGERANG SELATAN — Pagi perlahan menyentuh permukaan air Setu Ciledug, Pamulang. Di tengah pesatnya pembangunan Kota Tangerang Selatan, kawasan ini masih menyimpan ketenangan. Pepohonan, air, dan beragam kehidupan di sekitarnya menjadi pengingat bahwa kota tidak hanya dibangun oleh beton, tetapi juga oleh ruang-ruang alami yang harus dijaga.
Di tempat inilah GANESPA memilih untuk mengabdikan langkahnya. Selama bertahun-tahun, komunitas ini konsisten merawat dan memperjuangkan kelestarian Setu Ciledug, bukan hanya sebagai kawasan perairan, tetapi sebagai bagian penting dari keseimbangan ekosistem Tangerang Selatan.
Fungsi Strategis di Tengah Kota Beton
Bagi GANESPA, Setu Ciledug bukan sekadar hamparan air di tengah permukiman. Setu memiliki fungsi strategis sebagai kawasan resapan air, ruang terbuka hijau, sekaligus habitat bagi berbagai flora dan fauna. Keberadaannya menjadi salah satu benteng alami dalam menjaga kualitas lingkungan di tengah pertumbuhan kota yang semakin cepat.
Nurhatiz menegaskan bahwa aset lingkungan yang dimiliki Tangerang Selatan berbeda dengan daerah lain.
“Tangerang Selatan tidak memiliki gunung maupun laut. Aset lingkungan yang kita miliki adalah setu-setu yang berfungsi sebagai kawasan resapan air. Karena itu, kami berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap program pelestarian kawasan resapan air ini,” ujar Nurhatiz.
Ancaman di Sempadan dan Proyek Pamulang Square
Perjuangan tersebut menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan kawasan perkotaan membawa persoalan baru bagi keberlangsungan setu, mulai dari pencemaran, sedimentasi, hingga berkurangnya kawasan resapan air akibat perubahan fungsi lahan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perubahan kawasan sekitar Setu Ciledug yang dikaitkan dengan pembangunan Pamulang Square. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi ekologis kawasan sempadan situ yang selama ini menjadi penyangga lingkungan.
GANESPA kemudian memilih untuk bersuara. Mereka mendokumentasikan kondisi yang terjadi, menyampaikan aspirasi, serta mengingatkan bahwa pembangunan harus berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan.
“Kami melihat pembangunan tetap diperlukan, tetapi pembangunan tidak boleh mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Kawasan sempadan situ harus dijaga agar tetap berfungsi sebagai penyangga ekosistem dan daerah resapan air,” tegas Nurhatiz.
Upacara di Atas Air Hingga Taman Edukasi
Selama ini, GANESPA menjalankan berbagai kegiatan nyata untuk menjaga Setu Ciledug. Mulai dari aksi bersih-bersih situ, penanaman pohon, hingga edukasi lingkungan melalui Taman Edukasi GANESPA. Bagi mereka, menjaga alam tidak cukup hanya dengan wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan.
Komitmen ini juga diwujudkan melalui kegiatan simbolik, salah satunya upacara bendera di atas perairan Setu Ciledug setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Bagi mereka, mencintai Indonesia juga berarti menjaga alam yang menjadi bagian dari warisan bangsa.
Desakan Pengawasan ke Pemkot Tangsel
Menurut Nurhatiz, menjaga keberadaan setu bukan hanya tanggung jawab komunitas lingkungan, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Sebab, manfaat setu dirasakan langsung oleh warga, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan membantu mengurangi risiko banjir.
“Kami juga meminta Pemerintah Kota Tangerang Selatan meningkatkan pengawasan terhadap seluruh setu yang berada di wilayah Tangsel agar tetap lestari, tidak beralih fungsi, serta mampu menjalankan fungsinya sebagai penyangga lingkungan dan pengendali banjir,” kata Nurhatiz.
Hingga kini, GANESPA tetap berdiri di garis depan menjaga Setu Ciledug. Di tengah perubahan wajah kota, mereka berharap setu tetap menjadi ruang hidup, ruang belajar, dan warisan lingkungan yang dapat dinikmati generasi mendatang.