HSBC Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4% pada 2026, Melambat 5,2% di 2027

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Selasa, 29 September 2026 | 13:51:31 WIB
Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan.

BANTEN — HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4% sepanjang 2026, ditopang kinerja semester pertama yang mencatat rata-rata pertumbuhan 5,4%. Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann memperkirakan laju pertumbuhan melambat tipis menjadi 5,2% pada 2027, namun menilai angka itu masih sangat kuat di tengah tekanan global.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan. Frederic menilai capaian semester pertama menjadi cerminan ekonomi Indonesia yang masih tangguh meski situasi global penuh ketidakpastian.

Tiga Guncangan yang Menekan Ekonomi Global

Frederic memaparkan kondisi ekonomi dunia tengah menghadapi tekanan berat akibat tiga guncangan utama. Ketiganya adalah kenaikan harga energi imbas perang, fenomena El Nino yang mendorong harga pangan naik, serta lonjakan suku bunga global.

"Jika kita melihat Indonesia, negara ini cukup rentan terhadap berbagai guncangan tersebut, dan sekarang pertanyaannya adalah seberapa kuat perekonomian Indonesia mampu bertahan? Dan sejauh ini, kesimpulannya adalah perekonomian Indonesia sangat tangguh dalam menghadapi semua guncangan tersebut," tegas Frederic.

Subsidi Energi Jadi Jangkar Stabilitas

Pada guncangan energi, pemerintah dinilai berhasil mengelola dampak kenaikan harga minyak dunia melalui skema subsidi dan kontrol harga. Kebijakan itu disebut menjadi poin penting bagi stabilitas ekonomi nasional.

"Berkat adanya subsidi dan dukungan harga, kita tidak melihat dampak penuh terhadap konsumen sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain. Sejauh ini, pemerintah Indonesia mampu menanggung biaya pengendalian harga tersebut. Menurut saya, hal itu menjadi jangkar penting bagi stabilitas ekonomi," ujar Frederic.

Inflasi Pangan Relatif Rendah Dibanding El Nino Sebelumnya

Menghadapi guncangan harga pangan imbas kemarau, inflasi di Indonesia saat ini relatif rendah jika dibandingkan periode El Nino sebelumnya. Kondisi ini didukung perbaikan sistem distribusi pangan di seluruh wilayah serta status Indonesia sebagai eksportir bersih pangan.

"Indonesia adalah eksportir bersih pangan. Artinya, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor pangan. Memang ada beberapa komoditas yang diimpor, namun secara keseluruhan, Indonesia tetap merupakan eksportir bersih pangan. Hal ini juga sedikit banyak melindungi Indonesia dari dampak El Nino," jelasnya.

Pengelolaan Utang Konservatif Redam Risiko Suku Bunga

Soal gangguan imbas suku bunga global yang tinggi, pelaku usaha di Indonesia dinilai sudah terbiasa mengelola risiko suku bunga. Pengelolaan utang dan defisit anggaran pemerintah yang tergolong konservatif selama bertahun-tahun ikut mencegah kenaikan suku bunga global menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Atas dasar itulah Frederic memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% pada 2026 dan 5,2% pada 2027. HSBC optimistis arah pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang kuat dan stabil.

"Itulah salah satu alasan mengapa kami berpendapat bahwa ketiga guncangan tersebut pada akhirnya akan dapat diserap oleh Indonesia, dan negara ini akan terus menunjukkan ketahanan yang cukup kuat," pungkasnya.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top