KOTA TANGERANG — Sampah plastik, botol bekas, sisa barang dagangan, dan sampah rumah tangga bercampur dengan air Kali Sipon yang menghitam. Pantauan di lokasi pada Senin, 28 September 2026, menunjukkan tumpukan sampah berserakan di sepanjang permukaan kali yang membelah kawasan Pasar Sipon.
Selain sampah, endapan lumpur tampak menumpuk di dasar kali dan mulai mendekati permukaan air. Kondisi itu mengurangi kapasitas saluran dan dikhawatirkan menghambat aliran ketika hujan deras turun.
Asep, pedagang serabi yang sudah enam bulan berjualan di kawasan Jalan Sipon, mengaku harus berhadapan dengan bau tidak sedap hampir setiap hari. Menurutnya, aroma tersebut semakin terasa akibat sampah dan lumpur yang menumpuk di aliran kali.
"Iya, jelas setiap harinya saya dagang pasti kebauan," ujar Asep saat ditemui di lapaknya.
Asep juga mengaku belum pernah melihat adanya pembersihan atau pengerukan Kali Sipon selama dirinya berjualan di lokasi tersebut.
"Selama saya dagang sih belum ada petugas yang bersihin kali ini," katanya.
Bau dari aliran kali bukan hanya mengganggu aktivitas pedagang di sekitar pasar. Warga yang tinggal di sepanjang aliran Kali Sipon juga mulai mengkhawatirkan kondisi tersebut ketika musim hujan tiba.
Rendi, warga sekitar Pasar Sipon, menilai musim kering menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pembersihan dan pengerukan sebelum hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
"Ini sudah lama tidak hujan. Takutnya sekalinya hujan langsung gede, dan ketika curah hujan tinggi terjadilah banjir," tutur Rendi.
Menurut Rendi, tumpukan lumpur yang terlihat di dasar kali menunjukkan bahwa ruang aliran air semakin sempit. Ia khawatir saluran tidak mampu menampung debit air ketika hujan deras mengguyur kawasan Cipondoh.
"Lihat saja ini lumpurnya sudah naik. Terus kalau hujan bagaimana? Sudah pasti mampet dan bakal terjadi banjir," tegasnya.
Rendi berharap Pemerintah Kota Tangerang melalui dinas terkait tidak menunggu musim hujan untuk melakukan penanganan. Ia meminta sampah segera diangkut dan endapan lumpur dikeruk agar aliran kali kembali memiliki kapasitas yang cukup.
"Harusnya pemerintah bisa peka terhadap hal seperti ini. Harusnya dikeruk dulu sekarang, jadi nanti pas datang musim hujan warga tidak kelabakan kebanjiran," pungkas Rendi.