TANGSEL — Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa diseragamkan. Setiap keluarga punya akar masalah berbeda, sehingga pemerintah perlu membaca data secara terperinci sebelum menentukan langkah. Data itu, menurutnya, menjadi dasar untuk mengidentifikasi kondisi keluarga hingga tingkat alamat.
Berdasarkan hasil pengukuran hingga Agustus 2026, tercatat 879 anak terindikasi stunting dari 117.960 balita yang telah dilakukan pengukuran. Angka itu menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk menentukan tindak lanjut secara lebih terarah di tingkat kewilayahan.
Pemanfaatan data secara terperinci dinilai penting agar intervensi tidak salah sasaran. Dengan data hingga tingkat individu dan alamat, pemerintah dapat mengidentifikasi kondisi keluarga serta menentukan bentuk penanganan yang dibutuhkan.
Pilar memberi contoh, jika stunting dipengaruhi kondisi lingkungan, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui program pembangunan septic tank. Bila kondisi rumah tidak sehat, seperti minim pencahayaan, sirkulasi udara kurang baik, atau kelembapan tinggi, penanganannya dapat melalui program bedah rumah.
"Kalau di situ ternyata orang tuanya mengalami anemia, misalkan kekurangan sel darah merah dan kekurangan energi kronis, berarti penanganannya dari Dinas Kesehatan, Pos Gizi sebagai garda terdepan," kata Pilar Saga di Tangerang, Kamis.
Jika ditemukan masalah sosial dan ekonomi, penanganan dikoordinasikan bersama perangkat daerah dan kewilayahan. Bentuk intervensinya dapat berupa bantuan pangan, dukungan sosial, hingga mengarahkan keluarga pada program penempatan kerja apabila kondisi ekonomi memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi.
Pilar menekankan penanganan stunting harus dikerjakan lintas dinas. Menurutnya, faktor penyebab stunting sangat luas dan kompleks sehingga tidak bisa dibebankan hanya kepada satu instansi.
"Jadi ini penting sekali, semua dinas untuk bersama-sama bisa bekerja menangani stunting. Ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan, karena faktor stunting itu sangat luas dan kompleks," tuturnya.
Penanganan juga berkaitan dengan pola hidup dan pola asuh keluarga. Karena itu edukasi mengenai kesehatan dan pemenuhan gizi perlu diperkuat sejak masa kehamilan hingga periode 1.000 hari pertama kehidupan.
"Untuk menjadikan sumber daya manusia yang unggul, penanganan dilakukan sejak di dalam kandungan dan seribu pertama kehidupan," ucap Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan.