Timnas Esports Indonesia Batal Kirim Atlet Martial Arts ke Asian Games 2026

Penulis: Fauzan Arifin  •  Selasa, 15 September 2026 | 16:34:01 WIB
Manajer Timnas Esports Indonesia Glorya Famiela Ralahalo menyampaikan pembatalan pengiriman atlet nomor Martial Arts ke Asian Games 2026 dalam jumpa media di Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026).

BANTEN — Manajer Tim Nasional Esports Indonesia, Glorya Famiela Ralahalo, mengungkapkan bahwa pembatalan ini murni hasil review Kemenpora terhadap sistem kompetisi dan keterbatasan anggaran yang tersedia. Nomor Martial Arts dinilai terlalu berat untuk dijadikan target medali.

Keputusan tersebut disampaikan Famiela dalam jumpa media di Hotel Mercure, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026). Ia menjelaskan bahwa proses penilaian Kemenpora terbagi dua jalur: nomor yang harus melewati kualifikasi dan nomor yang langsung melaju ke main event Aichi-Nagoya.

Mengapa Nomor Martial Arts Dianggap Tidak Realistis

Famiela memaparkan bahwa game-game Jepang seperti Street Fighter 6, Tekken 8, dan The King of Fighters XV mendapat jalur langsung ke Aichi-Nagoya tanpa kualifikasi. Sementara nomor lain seperti Mobile Legends, HOK, Naraka, Identity, dan PUBG Mobile harus melewati babak kualifikasi — dan semuanya berhasil lolos.

Masalahnya, nomor Martial Arts menggabungkan tiga judul game berbeda dalam satu kategori medali. Artinya, atlet Indonesia harus menguasai ketiga game sekaligus untuk bisa bersaing memperebutkan satu medali emas.

"Jadi otomatis kalau misalnya ini ya, kita kompetisinya banyak yang Tekken doang. Tapi gimana, Street Fighter sama KOF. Kalau Street Fighter-nya oke, Tekken-nya oke, gimana dengan KOF-nya. Jadi dari hasil kesimpulan tersebut lah, maka dari review Kemenpora, kayaknya ini tidak bisa diberangkatkan. Karena tidak realistis untuk medal gitu," ujar Famiela.

Keterbatasan Dana Jadi Pertimbangan Utama

Famiela menyebut efisiensi anggaran menjadi faktor krusial dalam keputusan ini. Kemenpora tidak ingin memberangkatkan atlet ke nomor yang peluang medalinya kecil, meskipun PB ESI sudah berupaya maksimal menyusun program pembinaan.

"Karena dengan keterbatasan dana yang sekarang, efisiensi yang sekarang, otomatis Kemenpora tidak mau memberangkatkan semuanya gitu. Walaupun kalau dari PB ESI sendiri sudah semaksimal mungkin untuk memberikan target, review dan lain-lain," kata Famiela.

Menurutnya, selama proses review, tim penilai mengecek seluruh aspek termasuk rekam jejak atlet di masing-masing game. Tujuannya memastikan apakah pengiriman atlet benar-benar masuk akal untuk mengejar medali.

PB ESI Sudah Siapkan Pelatnas hingga Training Camp di Jepang

Famiela mengakui PB ESI sangat percaya diri dengan potensi atlet Martial Arts. Berbagai persiapan sudah disusun, mulai dari pelatnas, try out, hingga training camp yang direncanakan berlangsung di Jepang.

"Kita selalu percaya diri. Karena menurut kita, after dari review Kemenpora, kita kan mau masukin mereka ke pelatnas. Kita gas terus, kita punya ajang try out, training camp sampe ke Jepang. Itu tuh udah semua kita susun. Tapi ternyata mau dikata apa dari tim Kemenporanya sendiri, ternyata berkata lain kan gitu," pungkasnya.

Keputusan ini menyisakan catatan bagi ekosistem esports Indonesia. Di satu sisi, PB ESI menunjukkan keseriusan membina atlet di cabang non-tim. Di sisi lain, alokasi anggaran negara masih menjadi penentu utama nomor mana yang akhirnya diberangkatkan ke panggung Asian Games.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top