Pencarian

Infantino Dikritik Usai Usul Privatisasi Piala Dunia 2026, Piala Dunia Rp 300 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 • 16:19:31 WIB
Infantino Dikritik Usai Usul Privatisasi Piala Dunia 2026, Piala Dunia Rp 300 Triliun
Ketua FIFA Gianni Infantino menghadiri forum ekonomi di Davos, Swiss.

BANTEN — Kritik datang dari akademisi dan pengamat sepak bola internasional, Jules Boykoff, yang menilai langkah Infantino sebagai cerminan gaya kepemimpinan otoriter. Menurutnya, usulan privatisasi itu bukan sekadar kesalahan strategi, melainkan bagian dari pola yang lebih besar: FIFA di bawah Infantino makin menyerupai rezim yang ia hormati.

Skema Patronase di Balik Dukungan Federasi

Boykoff menyoroti bagaimana FIFA mendistribusikan dana ke asosiasi anggota dengan sistem yang minim pengawasan publik. Federasi yang mendukung skema private equity disebut akan menerima dana lebih besar, sementara yang menolak berisiko mendapat alokasi lebih kecil.

Pola itu, tulis Boykoff, mirip dengan cara pemerintahan Donald Trump menghentikan hibah proyek energi untuk negara bagian yang tidak mendukungnya di pemilu 2024.

Sejumlah federasi disebut telah mengetahui rencana privatisasi ini dari pemberitaan, bukan dari konsultasi resmi. Hal serupa terjadi saat Infantino memutuskan menyerahkan "hadiah perdamaian" FIFA kepada Trump tanpa melalui mekanisme internal yang semestinya.

Sistem Kekuasaan yang Menyulitkan Perlawanan

Meski mendapat penolakan publik dari UEFA, AFC, dan Concacaf, dukungan terhadap Infantino justru menguat dari beberapa arah. Meksiko, Qatar, dan sejumlah asosiasi Asia dilaporkan membelot dari sikap kolektif untuk menyatakan dukungan kepada Infantino.

Confederation of African Football (CAF) yang mewakili 54 negara secara bulat menegaskan kembali dukungannya. Infantino hanya butuh 106 suara untuk bertahan dalam pemilihan ulang Maret mendatang.

Sistem patronase FIFA, menurut Boykoff, menjadi obat penenang yang efektif bagi perbedaan pendapat. Dana jutaan dolar mengalir ke asosiasi di seluruh dunia dengan imbalan kesetiaan, tanpa pengawasan publik yang memadai.

Rekam Jejak Private Equity yang Buruk

Boykoff mengingatkan bahwa private equity punya catatan kelam dalam mengakuisisi aset bernilai sosial. Media olahraga dan rumah sakit menjadi contoh bagaimana entitas tersebut diambil alih, dikuras, lalu ditinggalkan dalam kondisi compang-camping.

Menjadikan sepak bola sebagai korban berikutnya, tulisnya, bukan hanya berisiko menghancurkan olahraga paling populer di dunia. Langkah itu disebutnya sebagai kejahatan terhadap kegembiraan kolektif.

Kandidat Pengganti yang Tak Bebas Masalah

Peluang menggantikan Infantino juga tidak mudah. Nama-nama yang disebut sebagai kandidat kuat membawa beban kontroversi masing-masing.

Victor Montagliani, yang menjabat sebagai kepala Concacaf dan wakil presiden Dewan FIFA, disebut memiliki riwayat kontroversial dalam perjalanan kariernya. Belum ada kandidat yang benar-benar bersih dari catatan masalah.

Boykoff menegaskan, meski banyak pihak menginginkan Infantino lengser, mereka yang punya kuasa untuk melakukannya justru menempatkannya sebagai kandidat terdepan dalam pemilihan tahun depan. Perlawanan terhadap Infantino, simpulnya, adalah pertarungan yang menanjak.

Follow www.katabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks