BANTEN — Hasil survei sidebar yang berlangsung beberapa pekan terakhir di Electrek akhirnya terungkap. Dari total hampir 2.700 suara yang masuk, mayoritas pembaca justru menyiratkan skeptisisme tinggi terhadap dampak Tesla Cybercab pada masa depan transportasi.
Survei ini digelar bertepatan dengan acara perkenalan ulang Cybercab di Austin, Texas. Dalam kesempatan itu, sejumlah influencer Tesla yang diundang secara khusus diberi kesempatan menjajal mobil tersebut, meski dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.
Pertanyaan dalam survei tersebut memang tidak halus. Opsi yang meraih hampir dua pertiga suara berbunyi, "It (Tesla's Cybercab) won't even be 'just another car,' if no one can drive it – and Tesla hasn't yet proven its AI can drive it."
Artinya, mayoritas responden menilai Cybercab bahkan tidak akan mencapai status "hanya mobil biasa" selama sistem kecerdasan buatannya belum teruji di jalan raya.
Pekan setelah survei berlangsung, pemberitaan negatif mengalir deras. Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) membuka penyelidikan terhadap aspek keselamatan Cybercab.
Data internal Tesla juga mengonfirmasi bahwa sistem Autopilot/FSD aktif dalam dua kecelakaan fatal terpisah: satu menewaskan pengendara motor dan satu lagi merenggut nyawa seorang ibu lima anak. Tesla juga memutuskan menyelesaikan gugatan fatal terkait Autopilot yang melibatkan tabrakan dengan mobil pemadam kebakaran, menghindari sidang juri dan proses pengungkapan publik lebih lanjut.
Komentar dari pembaca mengungkap akar keraguan mereka. Seorang pengguna dengan nama OliveAirBalloon menulis, "The car company that isn't a car company wants to sell you a car you don't need because of all these cabs they're making." Ia juga menyindir klaim bahwa pemilik bisa mengoperasikan mobilnya sendiri sebagai taksi untuk bersaing dengan armada perusahaan.
Beberapa komentator lain mengacu pada pernyataan Elon Musk sebelumnya bahwa pemilik Tesla bisa menghasilkan uang saat tidur dengan menjadikan kendaraan Full Self Driving mereka sebagai robotaxi. "Sounds like, Elon is keeping that pie for himself, if he succeeds," tulis salah satu responden.
Komentator reguler Mrvc juga tak kalah tajam. "The same people have been saying it will be transformative for years," katanya. "It looks like just a other autonomous taxi you can't own. I don't see how will it be any different (than) anything else."
Namun, tidak semua responden pesimistis. Sebagian melihat potensi kesuksesan dengan catatan praktis. Seorang pengguna menilai Cybercab akan berhasil besar di kota-kota super padat seperti Manhattan, San Francisco, dan Washington DC, tetapi tidak relevan di wilayah lain yang lebih luas.
"It's going to be huge in places where you barely need a car," tulisnya. Ia menambahkan bahwa biaya operasional yang lebih murah dibanding taksi atau Uber akan membuat Cybercab menggantikan layanan ride-hailing konvensional di area tersebut.
Komentator lain melihat peluang dari sisi bisnis. "I think they'll probably get it working a some sort of scale. They'll capture a reasonable percentage of the ride-share market and for that effort they will make pennies," tulisnya.
Hal paling mengejutkan dari hasil survei ini adalah absennya suara-suara penggemar berat Tesla yang biasanya memenuhi kolom komentar. Komentar teratas dari akun Sladdy Long Legs menyoroti fenomena ini, menanyakan apakah janji-janji yang tak terpenuhi telah mengikis kepercayaan mereka.
Ada pula komentar yang mengkritik desain survei. Sebuah analisis dari Claude menyebut opsi jawaban tidak berada dalam sumbu yang sama—dua opsi pertama menanyakan seberapa besar dampaknya, sementara opsi ketiga menanyakan prasyarat yang harus dipenuhi. Akibatnya, responden yang yakin Cybercab akan transformatif tetapi hanya setelah masalah otonomi teratasi, tidak punya pilihan lain selain memilih opsi pesimistis.