BANTEN — Peluncuran ETF Emas menandai integrasi antara industri bullion dan pasar modal yang telah disiapkan sejak 2024. Instrumen ini merupakan reksa dana yang diperdagangkan di bursa dengan aset dasar berupa emas fisik, di mana kepemilikannya tercatat dalam bentuk elektronik atau Electronic Gold Receipt (EGR). Pegadaian, sebagai satu-satunya bank bullion di Indonesia, bertugas menjamin ketersediaan dan keamanan emas fisik yang menjadi underlying instrumen keuangan tersebut.
Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur menjadi alasan utama pihaknya dipercaya mengemban peran ini. "Kolaborasi antara pelaku industri bullion dan pasar modal membuka peluang luas bagi masyarakat mengakses investasi emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa. Pegadaian berperan sebagai satu-satunya Bullion Bank yang menjadi underlying provider ETF Emas di Indonesia," ujarnya di BEI, Senin (10/8/2026).
Proses menuju peluncuran ini berjalan panjang. Setelah inisiatif awal dari BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2024, Pegadaian bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menandatangani nota kesepahaman untuk persiapan operasional. Infrastruktur pendukung yang dimiliki Pegadaian meliputi jaringan produsen emas bersertifikasi SNI 99,99 persen serta fasilitas penyimpanan emas atau vault berstandar internasional.
Dukungan regulator pun mengalir. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut ETF Emas telah memenuhi prinsip syariah berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Nomor 163 Tahun 2025. Sertifikasi ini dinilai membuka peluang instrumen tersebut menjadi alternatif investasi yang lebih inklusif, menjangkau segmen masyarakat yang selama ini menahan diri dari produk konvensional.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar penambahan produk di bursa. Ia merujuk pada data aset kelolaan ETF Emas global yang mencapai USD 559 miliar pada 2025 sebagai bukti besarnya potensi pasar. "Ini bukan sekadar menambah produk, tetapi memperluas pilihan investasi dan memperdalam pasar keuangan kita," kata Juda dalam kesempatan yang sama.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bahkan menyebut posisi Indonesia sudah sangat kuat untuk bersaing di kancah global. Ia mengungkapkan jumlah emas yang dikelola Pegadaian mencapai sekitar 153 ton, setara dengan nilai sekitar USD 20 miliar atau lebih dari Rp 320 triliun. "Jumlah emas di Pegadaian saja mencapai 153 ton atau sekitar USD20 miliar. Dalam waktu dekat kita bisa bersaing dengan negara-negara lain," ujarnya.
Dengan adanya ETF Emas, masyarakat kini memiliki kanal investasi emas yang lebih praktis tanpa perlu menyimpan fisik logam mulia. Instrumen ini diperdagangkan layaknya saham, memberikan likuiditas dan transparansi harga yang selama ini menjadi kendala utama investasi emas batangan konvensional. Integrasi penuh antara ekosistem bullion dan pasar modal ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri emas nasional secara berkelanjutan.