Di kampung-kampung Kabupaten Serang dan Pandeglang, bunyi rebana dan lantunan shalawat masih kerap terdengar di malam hari sebelum akad nikah digelar. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari rangkaian panjang prosesi pernikahan adat Banten yang sarat doa dan harapan. Berbeda dengan adat Jawa atau Sunda yang lebih populer di media, pernikahan Banten punya ciri khas tersendiri—lebih tegas, lebih religius, dan sangat menghormati peran tokoh masyarakat.
Tradisi ini tidak hanya bertahan di desa, tetapi juga diadaptasi oleh warga perkotaan yang tinggal di Tangerang Raya. Bagi kamu yang akan menikah dengan orang Banten atau sekadar ingin memahami akar budaya provinsi paling barat Pulau Jawa ini, memahami tahapan prosesinya penting. Artikel ini menjabarkan tujuh ritual utama yang masih dilestarikan, beserta nilai filosofis yang melekat.
Tahap paling awal adalah ngaras, yaitu kunjungan calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita untuk meminta restu secara langsung. Pada prosesi ini, pria melakukan sungkem atau mencium tangan orang tua calon istri sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Setelah restu didapat, dilanjutkan dengan nanyaan, musyawarah keluarga kedua belah pihak untuk membahas keseriusan hubungan.
Diskusi di tahap ini biasanya membahas waktu pelaksanaan, jumlah mas kawin, dan tanggung jawab finansial. Di Banten, keputusan tidak diambil sepihak oleh kedua mempelai, melainkan melibatkan orang tua dan sesepuh keluarga. Proses ini bisa berlangsung beberapa minggu hingga bulan, tergantung kesepakatan.
Setelah lamaran diterima, keluarga pria mengirimkan neundeun atau seserahan berupa uang, pakaian, dan perhiasan. Jumlah dan jenisnya tidak mengikat, tetapi biasanya disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Yang menarik, di sebagian wilayah Pandeglang, seserahan ini tidak boleh berlebihan—justru kesederhanaan dianggap lebih menghormati pihak wanita.
Mas kawin dalam pernikahan Banten umumnya berupa seperangkat alat shalat, uang, dan logam mulia. Nilai pastinya sangat bervariasi, tergantung kesepakatan kedua keluarga. Sebaiknya diskusikan hal ini secara transparan agar tidak menimbulkan beban di kemudian hari.
Menjelang akad, calon pengantin menjalani ngeuyeuk seureuh, ritual mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik. Biasanya dilakukan di rumah mempelai wanita dengan dihadiri tetangga dan kerabat dekat. Dalam prosesi ini, calon pengantin perempuan didampingi untuk merapikan diri, sementara doa-doa keselamatan dipanjatkan.
Ritual ini juga menjadi ajang pemberian nasihat dari orang tua yang sudah berpengalaman membina rumah tangga. Nasihat yang diberikan bukan sekadar formalitas, melainkan arahan praktis tentang mengelola keuangan, menjaga komunikasi, dan menghadapi konflik. Nilai ini yang membuat tradisi ini tetap relevan di tengah zaman modern.
Salah satu ritual paling khas Banten adalah kawin cai atau memandikan calon pengantin dengan air yang telah didoakan. Air ini biasanya diambil dari tujuh sumber mata air berbeda, lalu dicampur dengan bunga. Prosesi ini dilakukan sehari sebelum akad nikah untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Tokoh agama atau orang tua yang dituakan akan memimpin doa saat memandikan calon pengantin. Meski terkesan sederhana, ritual ini diyakini mampu menolak gangguan gaib dan memperlancar jalannya pernikahan. Di beberapa daerah, prosesi ini diiringi dengan pembacaan shalawat dan zikir bersama.
Berbeda dengan adat Betawi yang sering menggelar akad di gedung, masyarakat Banten lebih memilih melangsungkan akad di rumah mempelai wanita atau masjid terdekat. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan—kedekatan dengan tempat ibadah dianggap membawa keberkahan. Waktu pelaksanaan biasanya setelah shalat Subuh atau Dzuhur.
Pada prosesi akad, penghulu atau kyai akan memimpin ijab kabul dengan bahasa Arab dan Indonesia. Saksi haruslah dua orang laki-laki yang sudah baligh dan berakal sehat. Setelah sah, dilanjutkan dengan pembacaan doa dan saling berjabat tangan antara kedua keluarga besar.
Setelah akad, mempelai wanita menjalani ngerik, yaitu prosesi membersihkan dan merapikan alis, serta memotong ujung rambut sebagai simbol membuang sifat buruk. Ritual ini biasanya dilakukan oleh perias yang sudah dipercaya keluarga. Di Banten, perias tidak hanya merias wajah, tetapi juga memahami tata cara adat.
Setelah ngerik, dilakukan siraman dengan air kembang di tempat tertutup. Siraman ini berbeda dengan tradisi Jawa yang melibatkan tujuh kendi air—di Banten, prosesinya lebih sederhana dan fokus pada kebersihan diri. Mempelai pria biasanya juga menjalani prosesi serupa di rumahnya masing-masing.
Puncak acara adalah resepsi yang dihadiri tetangga, kerabat, dan tokoh masyarakat. Hidangan khas Banten seperti rabeg, sate bandeng, dan aneka olahan ikan laut biasanya tersaji. Musik tradisional seperti terbang gede atau marawis mengiringi acara, menciptakan suasana meriah namun tetap sopan.
Tradisi sawer dilakukan setelah resepsi, di mana kedua mempelai duduk berdampingan dan kerabat melemparkan beras kuning, uang logam, dan permen sebagai simbol doa agar hidup mereka makmur. Anak-anak biasanya berebut mengambil uang dan permen—ini menjadi momen paling menghibur sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Apakah semua tahapan ini wajib dilakukan?
Tidak semua. Beberapa keluarga memilih menyederhanakan prosesi, terutama yang tinggal di perkotaan dengan keterbatasan waktu dan biaya. Namun, tahapan seperti ngaras dan akad tetap dianggap wajib karena menyangkut sah atau tidaknya pernikahan secara adat dan agama.
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pernikahan adat Banten?
Biaya sangat bervariasi tergantung jumlah tamu, lokasi, dan kompleksitas ritual. Tidak ada patokan pasti—mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Sebaiknya buat perencanaan matang dan konsultasi dengan keluarga besar agar tidak membengkak.
Apakah pernikahan adat Banten bisa digabung dengan adat lain?
Bisa. Banyak pasangan beda suku yang menggabungkan prosesi Banten dengan adat Sunda, Jawa, atau Minang. Kuncinya adalah komunikasi antara kedua keluarga untuk menentukan bagian mana yang diutamakan.
Di mana bisa mencari jasa penyelenggara pernikahan adat Banten?
Kamu bisa mencari melalui rekomendasi keluarga, tokoh masyarakat, atau wedding organizer lokal di Serang dan Pandeglang. Pastikan memilih yang berpengalaman menangani adat Banten agar prosesi berjalan lancar.
Apakah ada pantangan tertentu dalam pernikahan adat Banten?
Beberapa keluarga masih memegang larangan menikah di bulan tertentu, seperti bulan Muharram atau Safar. Namun, ini bukan ketentuan mutlak—sebaiknya diskusikan dengan orang tua dan tokoh agama yang kamu percaya.
Melestarikan tradisi pernikahan adat Banten bukan berarti menolak modernitas. Justru dengan memahami filosofi di balik setiap prosesi, kita bisa mengambil nilai-nilai positifnya—menghormati orang tua, memperkuat silaturahmi, dan membangun fondasi rumah tangga yang kokoh. Selama kamu dan pasangan saling terbuka dan menghargai adat masing-masing, prosesi ini akan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.