Pemkab Lebak dan Kementan Tanam Padi Serempak di 38 Hektare, Targetkan Produksi Gandakan Hingga 12,4 Ton per Hektare

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:22:31 WIB
Petani menanam padi dengan metode PM-AAS di lahan Brigade Pangan Bunga Padi Milenial, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten.

LEBAK — Gerakan tanam serempak ini dipusatkan di dua lokasi strategis, yakni lahan Brigade Pangan Bunga Padi Milenial di Kecamatan Wanasalam dan areal persawahan Desa Rahong, Kecamatan Malimping. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar menyebut, luas tanam di Wanasalam mencapai 18 hektare yang berlokasi di Kampung Neglasari, Desa Cipeucang, sementara di Malimping digarap seluas 20 hektare.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP) dan realisasi luas tambah tanam (LTT). Pemerintah menargetkan LTT tahun ini seluas 157 ribu hektare untuk memastikan ketersediaan pangan dan menjaga surplus beras.

Surplus Beras Capai 172.460 Ton hingga Juni 2026

Rahmat menambahkan, hingga Juni 2026 Kabupaten Lebak telah mencatat surplus beras sebesar 172.460 ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan warga di wilayahnya hingga 13 bulan ke depan.

Dengan luas sawah baku mencapai 52.033 hektare, pemerintah berupaya menggenjot indeks pertanaman menjadi tiga kali setahun atau IP 300. Langkah ini menempatkan Lebak sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Banten.

Metode PM-AAS: Populasi Tanaman Naik Hingga 1 Juta Rumpun per Hektare

Berbeda dengan metode konvensional yang hanya menanam 300-360 ribu rumpun per hektare, gerakan tanam serempak tahun ini mengadopsi metode Pertanian Modern Advanced Agriculture Sistem (PM-AAS). Metode yang digagas Kementerian Pertanian ini memungkinkan peningkatan populasi tanaman hingga 800 ribu sampai 1 juta rumpun per hektare.

Sistem tanam benih langsung (tabela) yang diatur sangat rapat sekitar 3 sentimeter ini mampu melipatgandakan hasil panen. Jika rata-rata hasil panen gabah kering pungut (GKP) secara konvensional hanya 5-6 ton per hektare, metode PM-AAS bisa menghasilkan gabah 10 sampai 12,4 ton per hektare.

Benih Lebih Banyak, Pupuk dan Air Justru Lebih Efisien

Mumin, tenaga penyuluh pertanian yang melakukan pendampingan teknis di lokasi tanam, mengatakan metode ini membutuhkan benih lebih banyak sekitar 70 kilogram per hektare. Namun, sistem pertanian presisi yang diterapkan justru membuat penggunaan pupuk dan air menjadi lebih efisien dibandingkan cara konvensional.

Gerakan tanam serempak di Wanasalam dan Malimping ini menjadi momentum penting bagi Kabupaten Lebak. Sinergi antara pemerintah, petani milenial, dan penerapan teknologi modern diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top