BANTEN — Bocoran dari Mi Code yang dihimpun Ximitime mengungkap strategi baru Xiaomi untuk lini flagship 2026. Tiga model—18 reguler, 18 Pro, dan 18 Pro Max—tercatat akan dipasarkan di Indonesia, sementara varian Ultra yang selama ini jadi ikon ditiadakan. Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi: sumber yang sama menyebut biaya komponen yang meroket memaksa Xiaomi menetapkan harga jual yang lebih realistis.
Ketiga ponsel ini diprediksi meluncur global pada September mendatang, membawa HyperOS 4 berbasis Android 17. Seluruh varian akan ditenagai chipset Snapdragon 8 Elite Gen 6, dengan versi Pro dan Pro Max menggunakan chip yang lebih tinggi—kemungkinan berlabel Gen 6 Pro.
Varian reguler dengan nama kode Madrid ini punya nomor model 2611FPNFAG untuk pasar global. Yang paling mencolok: kapasitas baterai 7.200 mAh dengan fast charging 100W dan wireless charging 50W—angka yang biasanya baru ditemukan di varian Pro kompetitor.
Xiaomi 18 Pro menandai kembalinya lini Pro setelah absen tiga tahun. Dengan nama kode Venice dan nomor model 26122PN61G, varian ini hadir dengan konfigurasi kamera yang jauh lebih serius: sensor utama SmartSens 200 MP 1/1,28 inci, ultrawide 50 MP, dan telephoto 200 MP ISOCELL HP5.
Baterainya 7.000 mAh dengan pengisian yang sama seperti varian reguler. Namun perlu dicatat: India tidak masuk daftar negara tujuan—keputusan aneh mengingat pasar India biasanya jadi prioritas utama Xiaomi.
Inilah pengganti Xiaomi 18 Ultra. Dengan nama kode HongKong dan nomor model 2609BPN61G, Pro Max membawa tiga kamera 200 MP (utama, telephoto, ultrawide 50 MP). Sensor utama menggunakan SmartSens SCC90XS dengan dukungan LOFIC HDR 3.0—teknologi yang dirancang menjaga detail di area terang dan gelap secara bersamaan.
Baterainya jumbo: 8.500 mAh, angka tertinggi yang pernah ada di lini flagship Xiaomi. Fast charging 100W dan wireless charging 50W tetap dipertahankan. Untuk pasar, varian ini tercatat akan masuk China, India, Eropa, Turki, Indonesia, Taiwan, Rusia, dan Jepang.
Alasannya sederhana: biaya produksi yang tidak terkendali. Ximitime melaporkan jika Xiaomi tetap memaksa merilis Ultra, harganya bisa menembus USD 2.000 atau sekitar Rp 36 juta. Angka itu jelas di luar jangkauan mayoritas konsumen Indonesia, bahkan untuk segmen flagship sekalipun.
Pro Max hadir sebagai kompromi—spesifikasi mendekati Ultra, tapi dengan harga yang diharapkan lebih masuk akal. Namun, perlu diingat: penamaan "Pro Max" masih bisa berubah saat peluncuran resmi nanti.
Ada beberapa catatan yang membuat strategi ini tidak sepenuhnya mulus:
Belum ada konfirmasi resmi dari Xiaomi soal jadwal peluncuran dan harga. Jika bocoran ini akurat, debut global September mendatang akan jadi momen penentu: apakah strategi "tanpa Ultra" ini diterima pasar, atau justru jadi bumerang karena konsumen merasa kehilangan opsi paling premium.