TANGERANG — BPBD Kabupaten Tangerang mencatat krisis air bersih akibat kekeringan telah meluas hingga 12 kecamatan. Total warga yang terdampak mencapai 8.135 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 41 titik lokasi di 31 desa atau kelurahan.
"Total ada 12 wilayah kecamatan dengan total jumlah yang terdampak kurang lebih 8.135 KK, ini berdasarkan laporan yang diterima," kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik, Kamis.
Wilayah yang mengalami krisis air bersih meliputi Kecamatan Legok, Tigaraksa, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru, dan Pagedangan. Menurut Taufik, dalam satu desa bisa terdapat dua hingga empat titik lokasi yang mengalami kekeringan parah.
"Dari 31 desa itu ada 41 titik lokasi. Jadi satu desa ada yang dua, ada yang empat, ada yang satu begitu," ujarnya.
Menghadapi kondisi ini, BPBD tengah menyiapkan penetapan status siaga bencana kekeringan. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat koordinasi penanganan sekaligus membuka keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta.
"Kita belum arah ke sana. Namun, nanti kita akan buatkan dulu status siaga bencana dalam penanganan kedaruratan kekeringan ini," kata Taufik.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja, Dinas Perumahan dan Permukiman, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang untuk mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. BPBD juga memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Sampai sementara ini kita membantu terus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi melihat ini kondisi hujan belum turun, pasti kami mencari terobosan," tuturnya.
Apabila kondisi kekeringan semakin meluas dan faktor atmosfer mendukung, pemerintah membuka peluang mengusulkan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi jangka pendek. Langkah ini masih dalam tahap kajian dan akan dilakukan setelah status siaga bencana ditetapkan.