TANGERANG SELATAN — Biaya pakan menyerap 60–80 persen dari total biaya usaha peternakan. Angka itu menjadikan efisiensi pakan sebagai faktor penentu apakah peternak bisa bertahan atau tidak. BRIN pun menggenjot pemanfaatan bungkil malapari sebagai sumber pakan lokal yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Peternakan BRIN, Rantan Krisnan, mengatakan pakan lokal dapat mengurangi ketergantungan bahan impor. Selama ini, kata dia, industri peternakan Indonesia masih terpaku pada bahan konvensional yang notabene didatangkan dari luar negeri.
"Selama ini, kita selalu terpaku dengan bahan-bahan konvensional yang notabene itu adalah impor seperti jagung, bungkil kedelai. Kata kuncinya kita harus mandiri pakan dengan swasembada pakan artinya harus memanfaatkan pakan berbasis lokal ini sebagai sumber pakan untuk kemandirian pakan," ujar Rantan dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di ICE BSD City, Tangerang Selatan.
Dari Biji Malapari, 80 Persennya Justru Bungkil
Malapari selama ini dikenal sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati. Minyak dari bijinya dapat diolah menjadi biodiesel. Namun, proses pengepresan biji malapari ternyata menyisakan bungkil dalam jumlah jauh lebih besar.
"Dari biji malapari kalau dipres, yang jadi minyaknya hanya 20 persen. 80 persennya itu adalah bungkil. Ini adalah salah satu potensi di sektor peternakan yang sangat menarik untuk kita kembangkan," kata Rantan.
Bungkil malapari memiliki kandungan protein kasar sekitar 24–30 persen dengan serat relatif rendah, yakni 4–7 persen. Komposisi itu membuka peluang pemanfaatan sebagai bahan pakan ternak ruminansia maupun monogastrik.
Senyawa Antinutrisi Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Pemanfaatan bungkil malapari belum sepenuhnya mulus. Rantan menyebut masih ada tantangan berupa keberadaan senyawa antinutrisi yang perlu dikaji pengaruhnya terhadap penyerapan nutrisi dan performa ternak.
"Ada karajin, pongamol, senyawa propronoid yang dikenal sebagai antinutrisi tetapi antinutrisi itu kalau memang benar-benar menjadi penghambat. Tetapi kalau malah dalam batasan-batasan tertentu itu belum dikategorikan sebagai antinutrisi. Ini menjadi PR juga kalau memang benar-benar menghambat," ujarnya.
Pengembangan malapari di BRIN dijalankan melalui beberapa fokus yang saling melengkapi. Tim ORHL mengembangkan klon unggul untuk menghasilkan buah dan minyak dalam jumlah lebih besar. Adapun Kelompok Riset Teknologi Pakan Alternatif mengembangkan produk samping malapari sebagai bahan pakan lokal.
43 Klon Kolektif dari Berbagai Daerah
Direktur PT Santi Energi Hijau, Fauzi Bahanan, mengatakan kerja sama dengan BRIN telah berlangsung sejak 2022. Kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan bibit unggul malapari (Pongamia).
Hingga kini, kerja sama itu telah menghasilkan sekitar 43 klon kolektif yang dikumpulkan dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Maluku, Bali, Pangandaran, Jawa Timur, hingga Dompu.
"Saat ini kita sudah punya sekitar 43 klon kolektif dari seluruh Indonesia. Kita namakan MakroSan atau Makropropagasi dan Santi," ujar Fauzi.
"Pohon induk ini kita ambil dari seluruh Indonesia. Dari Jawa Barat, Maluku, Bali, Pangandaran, Jawa Timur dan Dompu yang kita domestikasi dan sekarang ada di persemaian kita di Bogor."
Pada 2026, PT Santi Energi Hijau membangun fasilitas persemaian bernama PoMa Hub (Pongamia-Malapari Hub) untuk mempercepat pengembangan bibit malapari.
Harapan Jadi Program Nasional
Rantan berharap tersedia policy brief pemanfaatan malapari sebagai bahan masukan bagi pemangku kebijakan. Menurutnya, malapari dapat menjadi alternatif sumber energi sekaligus pakan tanpa menggantikan sumber yang sudah ada.
Malapari juga dinilai berpotensi dikembangkan di lahan marginal, termasuk reklamasi lahan bekas tambang. Pengembangannya diharapkan melahirkan sistem integrasi malapari dan ternak atau SIMTEK.
"Kalau ada policy brief kita akan coba sounding ke pemegang kebijakan untuk dijadikan program nasional. Nanti akan memunculkan adanya sistem integrasi malapari ternak atau SIMTEK. Ini bukan untuk bermaksud menggantikan tetapi menjadikan pilihan," ucap Rantan.