BANTEN — PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat penurunan tajam volume impor kendaraan listrik BYD dari sekitar 74.000 unit pada 2025 menjadi sekitar 3.000 unit pada 2026. Penurunan ini memangkas pendapatan Terminal Branch Jakarta hingga sekitar Rp40 miliar, seiring BYD mulai membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Direktur Utama IPCC Wing Megantoro menyampaikan bahwa perubahan strategi BYD menjadi pemicu utama penurunan aktivitas bongkar muat kendaraan listrik di terminal yang dikelola perseroan. BYD sebagai prinsipal memilih membangun pabrik di dalam negeri ketimbang melanjutkan impor utuh dari luar.
"Jika dilihat dari data, memang impor BYD pada tahun 2025 sekitar 74.000 unit dan pada tahun 2026 sekitar 3.000 unit," kata Wing dalam Risalah Public Expose, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Angka tersebut setara penurunan sekitar 96% dibandingkan volume impor tahun sebelumnya. Dampaknya terasa langsung pada pendapatan Terminal Branch Jakarta yang diperkirakan mencapai Rp40 miliar.
Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, mencatat pola serupa. IPCC menangani sekitar 24.000 unit kendaraan VinFast sepanjang 2025, namun aktivitas impor merek tersebut menurun signifikan seiring perkembangan produksi lokal.
Dua merek kendaraan listrik yang sebelumnya menjadi penopang utama volume impor kini bergerak ke arah berbeda. Alih-alih mendatangkan unit jadi, keduanya mulai menggeser rantai pasok ke fasilitas produksi dalam negeri.
IPCC berharap produsen kendaraan listrik yang membangun pabrik di Indonesia dapat beralih dari importir menjadi eksportir melalui terminal yang dikelola perseroan. Wing menyebut kontrak layanan dengan BYD telah diperpanjang hingga Oktober 2028.
Perpanjangan kontrak tersebut memberi ruang bagi IPCC untuk menyesuaikan model bisnis. Terminal yang sebelumnya melayani arus masuk kendaraan utuh kini disiapkan untuk menangani pengiriman ke pasar luar negeri.
Perubahan ini menuntut penyesuaian operasional, mulai dari alur penanganan kendaraan hingga kapasitas lahan penumpukan. IPCC belum merinci proyeksi volume ekspor yang ditargetkan setelah pabrik beroperasi penuh.
Penurunan volume impor BYD dan VinFast menjadi sinyal bahwa pendapatan berbasis arus impor kendaraan listrik tidak lagi bisa diandalkan. Investor perlu mencermati seberapa cepat IPCC mengonversi kapasitas terminalnya untuk melayani ekspor.
Kontrak hingga 2028 memberikan kepastian jangka menengah. Namun besaran pendapatan dari skema ekspor baru bergantung pada realisasi produksi pabrik dan keputusan prinsipal mengirim unit ke pasar regional.
Bagi pelaku bisnis logistik dan otomotif, pergeseran ini menegaskan arah industri kendaraan listrik Indonesia yang bergerak dari pasar impor menuju basis produksi. Terminal Priok mempertahankan posisinya sebagai simpul utama, dengan risiko dan peluang yang berubah mengikuti strategi para prinsipal.