BANTEN — Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kian besar seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia. Rully Nova, analis dari Bank Woori Saudara, memperkirakan Rupiah hari ini bergerak melemah pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.050. Proyeksi itu muncul setelah harga minyak global melonjak akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Sentimen negatif datang dari beberapa arah sekaligus. Saling balas sanksi antara AS dan Iran, ketidakpastian pasokan minyak dari Selat Hormuz, hingga respons pasar terhadap perombakan struktur kabinet di sektor energi menjadi faktor yang saling memperkuat tekanan terhadap Rupiah.
Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung sepenuhnya pada sikap Amerika Serikat. Teheran menuntut jaminan objektif dari AS untuk menghentikan konflik di semua lini.
Tuntutan Iran tidak berhenti di situ. Mereka juga meminta pencairan aset yang dibekukan, pencabutan blokade laut, serta penghapusan pembatasan distribusi minyak. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan itu langsung memicu kenaikan harga minyak global.
Alih-alih mereda, situasi justru memanas setelah Amerika Serikat menjatuhkan rentetan sanksi baru terhadap Iran. Departemen Keuangan AS secara spesifik menargetkan dua raksasa produsen mobil Iran, yakni Iran Khodro dan SAIPA, beserta anak perusahaannya.
Perusahaan kereta api milik negara Iran juga masuk dalam daftar hitam sektoral. Langkah ini memberikan keleluasaan bagi otoritas AS untuk menindak entitas mana pun yang nekat berbisnis di industri tersebut.
Faktor domestik turut memberi andil terhadap fluktuasi nilai tukar. Rully Nova menilai perombakan struktur kabinet, khususnya soal siapa yang memegang kendali energi dan komoditas, mempengaruhi psikologis pasar dan arah kebijakan ekonomi ke depan.
"Perubahan dalam kabinet pemerintah, terutama terkait dengan pengelolaan energi dan komoditas, secara signifikan mempengaruhi neraca perdagangan," jelas Rully, dikutip dari Antara.
Presiden Prabowo Subianto baru saja melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, yang juga merangkap jabatan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kehadiran pos kementerian baru ini diharapkan bergerak cepat menjadi koordinator lintas lembaga. Salah satu tugasnya menyelaraskan langkah dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi guna mengamankan target ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Bagi pelaku pasar, dua faktor utama yang perlu dicermati ke depan adalah arah negosiasi AS-Iran soal Selat Hormuz dan kepastian kebijakan energi domestik. Keduanya akan menentukan apakah Rupiah mampu menahan pelemahan atau justru terus tertekan menuju level Rp18.000 per dolar AS.