BANTEN — Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengungkapkan profil risiko industri multifinance tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat 3,03 persen, sementara NPF net lebih tipis di angka 0,81 persen.
Rasio gearing perusahaan pembiayaan berada di level 2,10 kali. Angka ini masih sangat rendah dibandingkan batas maksimum yang ditetapkan regulator sebesar 10 kali, memberikan ruang luas bagi industri untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan ke depan.
Pertumbuhan piutang yang solid ini tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan modal kerja sektor usaha. Berbeda dengan pembiayaan konsumen yang cenderung fluktuatif, pembiayaan modal kerja menunjukkan permintaan yang lebih stabil sepanjang tahun berjalan.
Segmen Buy Now Pay Later (BNPL) yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan mencatatkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), outstanding pembiayaan BNPL mencapai Rp13,62 triliun per Juli 2026, melonjak 54,65 persen yoy.
Menariknya, ekspansi agresif di segmen ini tidak diiringi dengan penurunan kualitas aset. Rasio NPF gross BNPL justru turun ke level 3,03 persen, sejalan dengan perbaikan skoring kredit dan manajemen risiko yang lebih ketat oleh para pelaku industri.
Kondisi berbeda terjadi pada industri modal ventura. Agusman menyebutkan pembiayaan modal ventura pada Juli 2026 terkontraksi 0,46 persen yoy, dengan total nilai pembiayaan tercatat Rp16,32 triliun. Penurunan ini mengindikasikan para perusahaan modal ventura masih selektif dalam menyalurkan dana ke perusahaan rintisan atau usaha kecil menengah.
Kontraksi ini terjadi di tengah tren penurunan pendanaan venture capital secara global yang turut mempengaruhi strategi penyaluran di dalam negeri.
Dengan posisi permodalan yang kuat dan rasio risiko yang terkendali, industri multifinance dinilai memiliki daya tahan untuk menghadapi tekanan ekonomi. Pertumbuhan pembiayaan modal kerja yang positif menjadi sinyal bahwa sektor riil mulai bergerak, meskipun daya beli masyarakat kelas menengah masih menjadi pekerjaan rumah.
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan suku bunga acuan dan kebijakan moneter Bank Indonesia dalam beberapa bulan ke depan, mengingat sektor pembiayaan sangat sensitif terhadap pergerakan biaya dana. Investasi mengandung risiko.