TANGERANG — Hendra Wijaya, Mohamad Romli, Putra Jaya, Selly Loamena, Risadin Ijam, dan Mulyadi resmi meramaikan pemilihan Ketua PWI Kabupaten Tangerang periode mendatang. Banyaknya kandidat yang maju menjadi sinyal bahwa organisasi wartawan di wilayah berjuluk Kota Seribu Pabrik itu masih memiliki denyut kehidupan yang kuat.
Kursi ketua yang diperebutkan dinilai masih menarik minat. Namun, publik berharap ketertarikan itu lahir dari panggilan jiwa, bukan sekadar karena kursinya yang empuk. Sebab, tanggung jawab yang menanti jauh lebih berat daripada sekadar mengurusi rapat atau foto bersama pejabat.
Ketua PWI yang terpilih nanti bakal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat, bahkan melampaui kemampuan wartawan dalam mengganti kata sandi akun media sosial mereka.
Media sosial telah membuat siapa pun bisa berperan layaknya wartawan hanya dengan bermodal telepon genggam. Di saat yang sama, kecerdasan buatan mulai ambil bagian dalam menulis dan merangkum berita. Pada titik ini, wartawan dituntut bukan sekadar cepat, tetapi juga akurat dan benar.
Dinamika politik pun ikut menyudutkan profesi jurnalis. Tudingan dan cap negatif kerap dilemparkan, termasuk istilah "Londo Ireng" yang sempat beredar di tengah masyarakat.
Istilah tersebut dinilai tidak perlu direspons dengan emosi. Jika kritik yang dilontarkan keliru, jawaban yang paling tepat adalah dengan karya jurnalistik yang berkualitas. Sebaliknya, jika tudingan itu benar, maka perbaikan perilaku menjadi langkah yang harus diambil.
Profesi wartawan tidak akan terhormat hanya dengan rajin memamerkan kartu pers. Indonesia yang kini memasuki usia 81 tahun sudah lama terbebas dari penjajahan fisik. Jangan sampai setelah merdeka, pers justru dituding menjadi kepanjangan tangan kepentingan kelompok tertentu.
Di sinilah PWI Kabupaten Tangerang memiliki pekerjaan rumah besar. Organisasi harus mampu menjadi rumah besar yang terbuka bagi kritik, perbedaan pendapat, dan kepentingan publik.
Siapa pun yang kelak memenangkan kontestasi, ia harus menjadi ketua bagi semua pihak, bukan hanya bagi mereka yang memilihnya. Kursi ketua pada akhirnya hanyalah kursi. Ia bisa terasa empuk hari ini, tetapi bisa membuat punggung pegal jika terlalu lama diduduki.
Yang akan dikenang bukanlah mereka yang paling ramai saat mencalonkan diri, melainkan siapa yang mampu membuat organisasi lebih bermartabat setelah terpilih. Para kandidat dipersilakan bertarung secara sehat, berebut suara untuk memenangkan hati anggota.
Namun, pesan sederhana patut digarisbawahi: tepis tudingan "Londo Ireng" bukan dengan slogan, melainkan dengan keberpihakan yang nyata kepada kebenaran. Wartawan boleh bertambah tua, organisasi boleh berusia delapan dekade, tetapi integritas tidak boleh ikut pensiun.