JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia diguncang tekanan jual besar-besaran pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10) pagi. Rupiah melemah 83 poin atau 0,46 persen ke Rp 18.021 per dolar AS, meninggalkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.938.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka anjlok 469,86 poin atau 8,01 persen ke 5.393,92. Kelompok 45 saham unggulan (LQ45) ikut ambruk 49,14 poin atau 8,33 persen ke level 540,95.
PT Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan pada pukul 09.00 WIB. Langkah itu diambil sesuai standar sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) begitu penurunan IHSG menembus batas 8 persen.
Trading halt berfungsi meredam histeria panic selling yang melanda pelaku pasar sejak menit awal pembukaan. Tanpa penghentian, tekanan jual berpotensi memperparah penurunan indeks dalam satu sesi.
Pemicu utama gejolak ini adalah langkah lembaga indeks global MSCI membuka konsultasi resmi untuk mengkaji ulang status klasifikasi MSCI Indonesia Indexes. Status saat ini Emerging Market (EM) berpotensi diturunkan menjadi Standalone Market.
MSCI menerima masukan pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan final sebelum 30 Juni 2027. "Rencana reklasifikasi tetap berlanjut kecuali ditemukan perbaikan material nyata dalam fungsi dan tata kelola pasar modal Indonesia," demikian rilis laporan keterbukaan MSCI.
Ancaman penurunan kelas memicu kekhawatiran pelarian modal asing (capital flight) secara masif. Arus keluar dana asing berpotensi makin menekan nilai tukar rupiah dan memperpanjang volatilitas di pasar modal domestik.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.925–Rp 18.050 per dolar AS. Sentimen risk-off pascalaporan MSCI menjadi faktor dominan yang menekan mata uang Garuda.
"Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.925–Rp18.050 per dolar, di tengah sentimen risk-off setelah pengumuman MSCI," kata Josua, dikutip dari Antara.
Tekanan pada rupiah dan pasar saham terjadi bersamaan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek klasifikasi pasar Indonesia. Perdagangan di BEI kembali dibuka setelah jeda trading halt sesuai mekanisme yang berlaku.