BANTEN — Marshall Bromley 150 resmi mengisi celah speaker pesta kompak dengan daya 200W, woofer 6,5 inci, dan dua driver full-range, dijual mulai 499,99 dolar AS (sekitar Rp 8,2 juta). Varian terkecil dari lini Bromley ini membawa baterai 40 jam, rating IP55, dan lampu panggung khas Marshall yang bisa dimatikan. Cocok untuk pemburu speaker pesta bergaya premium yang mengutamakan desain sekaligus tenaga bass.
Speaker ini hadir sebagai model paling ringkas dari keluarga Bromley, menyusul Bromley 750 yang lebih dulu meluncur. Bobotnya hanya 6,3 kilogram dengan dimensi 290 x 208 x 297 mm, jauh lebih enteng dibanding saudara besarnya. Pegangan anyaman di bagian atas membuat speaker ini gampang dipindah dari ruang tamu ke halaman belakang.
Respons frekuensi speaker ini sanggup turun sampai 42Hz. Saat diuji memutar lagu Cowboy Killer dari Kyle Walker dan Nate Katz, hentakan bass terasa dalam namun tetap terkendali. Fokus utama Bromley 150 memang di low-end, tapi bukan berarti frekuensi lain dikorbankan.
Pada trek vokal seperti Black Eye milik Allie X, suara penyanyi tetap jernih di tengah campuran instrumen. Drum berfrekuensi tinggi terdengar tajam dengan decay cepat. Kendati demikian, vokal di rentang menengah terasa kurang detail dibanding beberapa speaker seharga ini.
Teknologi True Stereophonic khas Marshall membuat suara tetap konsisten dari segala arah. Bass dalam dan treble bersih bertahan bahkan saat didengar dari belakang atau samping speaker. Di kelas kompetitornya, ini termasuk yang paling rapi.
Dua combo jack XLR/6,35mm membuka peluang untuk karaoke atau menyambungkan instrumen langsung. Fitur Auracast memungkinkan pemasangan banyak speaker sekaligus dalam satu siaran audio. Sayangnya, tidak ada codec LDAC untuk mendengarkan audio resolusi tinggi secara nirkabel.
Tampilan Bromley 150 mengikuti estetika amplifier klasik Marshall dengan lapisan kulit sintetis dan aksen keemasan. Kenop kontrol terasa solid dan bodi terbilang kokoh. Lampu LED bergaya panggung panggung memberi kesan jauh lebih elegan dibanding RGB yang umum di speaker pesta sejenis.
Ada beberapa mode pencahayaan yang bisa dipilih, atau dimatikan sekalian jika ingin menghemat baterai. Rating IP55 menjadi nilai tambah karena tahan terhadap debu dan cipratan air bertekanan. Speaker ini bisa dibawa keluar ruangan tanpa khawatir cepat rusak.
Daya tahan 40 jam per pengisian cukup untuk melewati beberapa sesi pesta tanpa mencolok charger. Baterainya bisa dilepas dan diganti pengguna, begitu pula sejumlah komponen lain. Pendekatan ini memperpanjang usia pakai speaker secara signifikan.
Kritik terbesar penguji terletak pada aplikasi pendamping Marshall yang terbilang kuno. Pengguna cuma bisa mengatur siaran Auracast, mengkustomisasi tombol M, dan mengatur timer mati otomatis. Tidak ada pengaturan equalizer jarak jauh, sehingga perubahan bass dan treble tetap harus lewat dial fisik di bodi speaker.
Sebagai catatan, tidak adanya konektor RCA juga disayangkan, terutama karena model Bromley yang lebih besar memilikinya untuk kebutuhan DJ controller atau turntable.
Marshall membandrol Bromley 150 seharga 499,99 dolar AS atau sekitar Rp 8,2 juta, setara 399,99 poundsterling dan 699 dolar Australia. Peluncurannya berlangsung Oktober 2026, sekitar setahun setelah debut Bromley 750. Angka ini menempatkannya di segmen premium untuk ukuran speaker portabel.
Sebagai pembanding, Sony ULT Tower 5 dibanderol sekitar 50 dolar AS lebih murah dengan bodi jauh lebih besar dan woofer 230mm. Speaker Sony itu juga menyediakan konektivitas RCA dan XLR yang lebih lengkap. Sebaliknya, JBL Xtreme 5 dibanderol 399,95 dolar AS dengan rating IP68 dan bobot hanya 2,9 kg, tapi daya tahan baterainya cuma 24 jam.
Marshall Bromley 150 cocok untuk pembeli yang menjadikan speaker sebagai bagian dari dekorasi ruangan, bukan sekadar alat pemutar musik. Kualitas suara dan bangunan premium memang sebanding dengan harganya. Namun jika prioritas adalah tenaga maksimal per rupiah, speaker pesta berukuran lebih besar di harga serupa patut masuk daftar pertimbangan.