LEBAK — Posisi Kabupaten Lebak di peringkat keempat provinsi sebelumnya kini bergeser ke urutan kedua. Peningkatan cakupan CKG umum dan sekolah tercatat pada grafik pemantauan dengan batas penghitungan 14 Oktober 2026.
Angka 61,6 persen itu menandai kenaikan sekitar 7,6 poin dari capaian September 2026 yang berada di kisaran 54 persen. Capaian September sendiri sudah lebih tinggi dari target nasional 46 persen.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, menyampaikan capaian tersebut kepada Fakta Banten pada Kamis (15/10/2026). Ia menyebut peningkatan ini tidak lepas dari arahan pimpinan daerah, khususnya Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya.
"Capaian ini bukan semata-mata hasil kerja Kepala Dinas Kesehatan maupun Sekretaris Dinas Kesehatan. Ada arahan dan dukungan dari pimpinan daerah, khususnya Bapak Bupati Lebak, yang menjadi bagian penting dalam mendorong pelaksanaan program kesehatan. Selain itu, keberhasilan ini juga merupakan buah dari sinergi seluruh pihak yang terlibat," kata Endang.
Pelaksanaan CKG menuntut koordinasi dan komitmen bersama agar program menjangkau masyarakat lebih luas. Puskesmas dan tenaga kesehatan di lapangan menjalankan pemeriksaan, menyampaikan edukasi, hingga menindaklanjuti warga yang butuh pelayanan lanjutan.
"Puskesmas dan seluruh tenaga kesehatan memiliki peran besar dalam pencapaian ini. Mereka bekerja langsung di lapangan, memberikan pelayanan, melakukan sosialisasi, serta mengajak masyarakat agar memanfaatkan program CKG. Karena itu, capaian ini patut kita pandang sebagai hasil kerja kolektif, bukan keberhasilan satu atau dua orang saja," ujarnya.
Endang menambahkan, sinergi juga dibangun bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pihak sekolah, dan masyarakat. Kolaborasi itu membantu penyebaran informasi soal sasaran program, jadwal pemeriksaan, dan mekanisme pelayanan.
"Keberhasilan program kesehatan tidak bisa dibangun oleh satu institusi saja. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, puskesmas, sekolah, pemerintah desa, hingga partisipasi masyarakat. Semua memiliki peran sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-masing," katanya.
Menurut Endang, kenaikan dari sekitar 54 persen ke 61,6 persen perlu diikuti evaluasi berkelanjutan. Perluasan pelayanan mesti berjalan seiring peningkatan kualitas pemeriksaan.
"Peningkatan persentase ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus bekerja lebih baik. Meski demikian, kami tidak boleh berpuas diri. Masih ada masyarakat yang perlu dijangkau, sehingga sosialisasi, koordinasi, dan penguatan pelayanan di lapangan harus terus dilakukan," tuturnya.
Keberhasilan program dinilai tidak cukup diukur dari persentase partisipasi. Kualitas pemeriksaan, ketepatan pencatatan, penyampaian hasil ke peserta, dan tindak lanjut medis turut menentukan manfaat CKG bagi warga.
Endang mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG untuk mengenali kondisi kesehatan sejak dini. Warga yang ditemukan memiliki faktor risiko atau indikasi gangguan kesehatan diharapkan mengikuti arahan tenaga kesehatan.
"Kami mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG sebagai salah satu langkah untuk mengenali kondisi kesehatan sejak dini. Apabila ditemukan faktor risiko atau indikasi gangguan kesehatan, masyarakat diharapkan mengikuti arahan tenaga kesehatan agar memperoleh pemeriksaan lanjutan maupun penanganan yang tepat," ucapnya.