BANTEN — Meta memamerkan jajaran kacamata pintarnya di ajang Meta Connect, termasuk model audio-only tanpa kamera yang belum dirilis resmi. Perangkat ini dibekali enam mikrofon dan dirancang meredam kekhawatiran privasi setelah sebelumnya dituduh sebagai "pervert glasses". Meta juga memperkenalkan kacamata khusus tunarungu yang dijual US$150, jauh lebih murah dari alat bantu dengar konvensional yang bisa menembus US$1.600.
Meta Connect menjadi panggung bagi raksasa media sosial itu untuk menunjukkan arah barunya di perangkat wearable. Hampir semua staf Meta dan influencer yang hadir tampak mengenakan kacamata pintar di wajah mereka, dan sebagian besar demo yang ditawarkan perusahaan melibatkan perangkat tersebut.
Salah satu produk yang paling menonjol adalah kacamata pintar audio-only yang belum dirilis. Perangkat ini muncul tak lama setelah Meta diterpa tuduhan menjual "pervert glasses", karena kacamata berkamera dinilai bisa disalahgunakan untuk pengawasan diam-diam.
Model baru ini dilengkapi enam mikrofon tanpa kamera, dan tidak punya cara bawaan untuk merekam lingkungan sekitar. Bobotnya jauh lebih ringan dibanding kacamata pintar lain yang pernah dicoba, dan nyaman dipakai dalam waktu lama.
Staf Meta yang mendampingi demo menekankan sisi hiburan dan komunikasi perangkat. Pengguna bisa mendengarkan musik dengan lebih nyaman dibanding earbuds, sekaligus menerima panggilan telepon tanpa perlu meraih ponsel.
Kacamata ini juga terhubung dengan Muse, sistem agen personal milik Meta yang bisa menjalankan tugas atas nama pengguna. Integrasi tersebut belum tersedia untuk publik, dan memungkinkan pemakai memberi perintah ke Muse secara verbal.
Meta berencana mempersonalisasi agen ini, dengan opsi memilih beragam avatar digital lucu yang mewakili Muse saat berkomunikasi dengan pengguna. Dalam uji coba, pengguna harus berbicara sangat langsung ke agen dan tidak bisa mengobrol dengan orang lain bersamaan karena agen akan bingung.
Meski begitu, potensinya cukup jelas. Pengguna bisa meminta Muse mengurus tugas digital seperti mengirim email atau membacakan daftar to-do saat sedang berbelanja atau bersantai. Kacamata juga bisa menjawab pertanyaan apa pun, mirip versi mobile dari ChatGPT.
Produk kedua yang diuji adalah kacamata audio-only untuk pengguna dengan gangguan pendengaran. Kehilangan pendengaran memengaruhi banyak keluarga, dengan sekitar 50 juta warga Amerika dikabarkan mengalami tingkat gangguan dengar tertentu.
Anggota tim riset Meta yang ditemui menyebut kacamata ini dikembangkan sekitar lima tahun. Perbedaan harga menjadi daya tarik utamanya: alat bantu dengar konvensional bisa mencapai US$1.600, sementara kacamata ini dijual US$150.
Dalam demo, pengguna diminta memakai penyumbat telinga untuk mensimulasikan gangguan dengar. Setelah kacamata terpasang, suara lawan bicara terdengar diperkuat. Pengguna bisa mengalihkan mode amplifikasi dari fokus ke satu orang di depan, ke omnidirectional yang menangkap suara dari segala arah.
Mark Zuckerberg berulang kali menegaskan keyakinannya bahwa kacamata pintar adalah masa depan. Perusahaan pun berupaya mewujudkan visi itu dengan melebarkan cakupan produk, mulai dari gaya, fungsi, hingga kegunaan praktis.
Kacamata pintar masih menjadi ceruk pasar yang belum benar-benar menemukan pijakan. Strategi Meta di Connect terlihat jelas: mencoba menang di wilayah yang belum berhasil digarap pemain lain, dengan pendekatan yang jauh lebih luas.
Apakah dunia akan mengikuti arah ini masih harus dilihat. Yang pasti, Meta sudah memasang taruhan besar bahwa perangkat di wajah pengguna akan menjadi antarmuka berikutnya setelah smartphone.