TANGERANG — Kali Pasir dan Kisamaun bukan sekadar nama dua kampung di kawasan Pasar Lama. Keduanya adalah saksi hidup bagaimana kultur peranakan Tionghoa, yang dikenal sebagai Cina Benteng, bertemu dan hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim pribumi selama ratusan tahun.
Posisi kawasan itu persis di tepi Sungai Cisadane, menjadikannya salah satu sudut paling bersejarah di Kota Tangerang. Dari gang-gang sempit di antara rumah tua, jejak perpaduan budaya terlihat jelas pada arsitektur, kuliner, hingga ritual keagamaan warga.
Kali Pasir dan Kisamaun berada dalam satu hamparan dengan Pasar Lama Tangerang, pusat perdagangan yang sudah ada sejak masa kolonial. Kawasan ini menjadi tempat bermukim komunitas Cina Benteng, sebutan bagi peranakan Tionghoa yang telah berbaur dengan penduduk lokal selama beberapa generasi.
Yang membuat kawasan ini berbeda dari permukiman lain adalah kedekatan sosial antarwarga. Rumah ibadah dua agama berdiri tidak jauh satu sama lain, dan aktivitas harian warga berjalan tanpa sekat yang berarti.
Akulturasi di tepi Cisadane bertahan karena dibangun dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar seremonial. Warga saling bertetangga, berdagang di pasar yang sama, dan merayakan hari besar masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain.
Pola permukiman yang rapat justru memperkuat interaksi lintas etnis dan agama. Anak-anak dari keluarga Cina Benteng dan pribumi tumbuh di lingkungan yang sama, sekolah di tempat yang sama, dan berbicara dalam bahasa pergaulan yang sama.
Identitas Cina Benteng masih melekat pada warga Kali Pasir dan Kisamaun. Sebagian rumah mempertahankan ornamen khas Tionghoa, sementara kuliner peranakan menjadi dagangan sehari-hari di sekitar Pasar Lama.
Perpaduan itu tidak menghapus identitas masing-masing kelompok. Justru sebaliknya, keduanya saling menguatkan dan membentuk wajah Kota Tangerang yang dikenal sebagai kota beragam budaya.
Pemerintah Kota Tangerang kerap menyebut kawasan Pasar Lama sebagai contoh nyata kerukunan warga. Kawasan ini menjadi rujukan bagaimana perbedaan keyakinan dan latar budaya bisa hidup berdampingan tanpa konflik.
Bagi warga sekitar, toleransi bukan konsep yang perlu dirumuskan dalam seminar. Ia sudah menjadi bagian dari keseharian sejak lama, diwariskan dari generasi ke generasi di sepanjang tepi Sungai Cisadane.