BANTEN — Tekanan terhadap penjualan Tesla di pasar China berlanjut pada Agustus 2026. Data penjualan ritel menunjukkan hanya 50.047 unit yang terjual di Negeri Tirai Bambu, sementara pabrik Shanghai justru mengirim 36.119 unit ke pasar luar negeri.
Angka ekspor itu naik 39 persen secara tahunan, meski turun 46 persen dibandingkan Juli yang mencatat rekor pengiriman. Secara keseluruhan, ekspor dari Shanghai sudah meningkat selama delapan bulan berturut-turut secara tahunan.
Gabungan penjualan domestik dan ekspor membuat total wholesale Tesla dari pabrik Shanghai mencapai sekitar 86.000 unit pada Agustus. Artinya, ekspor kini menyumbang porsi yang semakin besar dari total produksi Tesla di China.
Pergeseran ini menandakan perubahan strategi Tesla di tengah ketatnya persaingan pasar mobil listrik China. Pasar domestik menghadapi gempuran merek lokal seperti BYD, Geely, Xiaomi, dan Leapmotor yang agresif meluncurkan model baru dengan harga kompetitif.
Meski secara tahunan turun, penjualan Tesla di China pada Agustus sebenarnya melonjak 83,7 persen dibandingkan Juli. Pola ini menunjukkan fluktuasi besar dalam pengiriman dan penjualan Tesla dari bulan ke bulan.
Penurunan tahunan Agustus ini juga tercatat sebagai yang terendah untuk periode tersebut sejak 2022. Tekanan terhadap Tesla bukan fenomena tunggal di pasar China.
Data China Passenger Car Association menunjukkan penjualan domestik mobil penumpang pada Agustus turun 23,7 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor mobil dari China justru melonjak 77,5 persen menjadi 894.000 unit.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa produsen mobil China semakin mengandalkan pasar luar negeri ketika permintaan domestik melemah. Tesla, dengan Gigafactory Shanghai sebagai basis produksi ekspor, tampaknya mengikuti arus yang sama.
Bagi konsumen Indonesia, dinamika ini relevan karena Tesla dan sejumlah merek China seperti BYD dan Xiaomi terus memperluas pasar di Asia Tenggara. Perang harga di China berpotensi memengaruhi strategi harga model-model yang diekspor ke Indonesia.