Ilmuwan Ungkap Proses "Buka Ritsleting" Kerak Bumi di Bawah Italia

Penulis: Hendra Setiawan  •  Sabtu, 12 September 2026 | 11:24:01 WIB
Ilustrasi proses delaminasi kerak Bumi di bawah Pegunungan Apennini, Italia.

BANTEN — Sebuah studi yang dipimpin Stefano Tavani dari University of Florence menyoroti fenomena geologi di bawah Pegunungan Apennini, rangkaian pegunungan sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang membentang di Semenanjung Italia. Proses yang dimaksud bukan berarti Italia akan terbelah, melainkan pengelupasan lapisan bawah kerak Bumi yang perlahan tenggelam ke dalam mantel.

Fenomena ini dikenal sebagai delaminasi. Penelitian terbaru menunjukkan proses tersebut mungkin menjadi kunci untuk menjelaskan mengapa Apennini mengalami tekanan dan tarikan secara bersamaan — kondisi yang sebelumnya sulit dijelaskan oleh model geologi konvensional.

Apa Itu Delaminasi dan Mengapa Terjadi di Italia

Apennini terbentuk selama jutaan tahun akibat interaksi lempeng tektonik. Umumnya, pegunungan muncul ketika kerak Bumi mengalami tekanan dan penebalan. Namun kondisi di Italia lebih rumit: bagian depan pegunungan masih mengalami pemendekan, sementara bagian dalamnya justru meregang.

Dua proses yang tampak berlawanan ini terjadi dalam sistem yang sama. Para peneliti menduga delaminasi menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskan pola tersebut. Bagian bawah kerak yang lebih padat perlahan terlepas dari lapisan di atasnya, lalu tenggelam ke mantel Bumi.

Material mantel yang lebih ringan kemudian menggantikan material padat yang hilang. Akibatnya, kerak yang tersisa mengalami rebound atau terangkat kembali. Proses inilah yang memicu peregangan di belakang zona delaminasi, sementara wilayah di depannya tetap mengalami tekanan.

Data GPS dan Gempa yang Memperkuat Temuan

Tim peneliti menggabungkan berbagai sumber data: catatan gempa, pengukuran GPS, pengamatan radar satelit, hingga pemetaan batas antara kerak dan mantel Bumi yang dikenal sebagai Moho. Dari kombinasi tersebut, muncul pola yang konsisten.

Pengukuran GPS menunjukkan peregangan sekitar 4 milimeter per tahun melintasi rangkaian pegunungan. Di bagian depan pegunungan, tercatat gerakan berlawanan berupa pemendekan sekitar 2 milimeter per tahun. Para ilmuwan menggambarkannya seperti gerakan akordeon.

Pola gempa juga menunjukkan perbedaan di sekitar zona engsel. Di belakang zona tersebut, mekanisme gempa lebih banyak mencerminkan kerak yang ditarik. Di depannya, gempa lebih berkaitan dengan tekanan.

Struktur 500 Kilometer di Bawah Apennini

Para peneliti menemukan struktur yang membentang lebih dari 500 kilometer di bawah Apennini. Di wilayah ini, batas kerak-mantel dari sisi Laut Tyrrhenia dan sisi Adriatik tampak saling tumpang tindih.

Struktur tersebut diinterpretasikan sebagai petunjuk adanya bagian bawah kerak yang sedang terkelupas. Titik tempat pengelupasan dimulai disebut hinge atau zona engsel, yang bergerak perlahan di bawah Apennini menuju wilayah Adriatik.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan perubahan di kawasan ini dengan slab rollback, yaitu mundurnya bagian lempeng yang menanjam ke bawah. Proses itu dapat menarik kerak di belakang pegunungan sehingga wilayah tersebut meregang dan berperan dalam pembentukan Laut Tyrrhenian.

Namun, mekanisme tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan perubahan yang terus berlangsung setelah sekitar 2 juta tahun lalu. Delaminasi yang masih berlangsung diusulkan sebagai salah satu mesin internal yang menjelaskan pola deformasi saat ini.

Bukan Prediksi Italia Terbelah

Analogi "kerak Bumi membuka ritsleting" terdengar dramatis, tetapi prosesnya berlangsung dalam skala waktu geologi dengan kecepatan hanya beberapa milimeter per tahun. Temuan ini bukan prediksi bahwa Italia akan terbelah dalam waktu dekat.

Penelitian ini justru membantu ilmuwan memahami bagaimana struktur Pegunungan Apennini terbentuk dan mengapa deformasi di kawasan itu begitu kompleks. Para peneliti sendiri menekankan bahwa gambaran tersebut belum sepenuhnya lengkap.

Model yang digunakan masih disederhanakan, dan struktur lempeng di bawah Apennini belum seluruhnya dipahami. Dalam penelitian mereka, proses tersebut disebut sebagai dokumentasi empiris yang dibatasi data geodesi mengenai engsel delaminasi yang bermigrasi secara lateral.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top