BANTEN — Pendanaan itu juga akan dipakai untuk memulai desain platform robot generasi keempat. Langkah ini menempatkan Maven bersaing langsung dengan pemain robotika industri yang sudah lebih dulu melantai di bursa.
CEO dan co-founder Hamza Derbas menghabiskan kariernya di bidang teknik otomotif dengan fokus kendaraan listrik. Sebelum mendirikan Maven, ia sembilan tahun bekerja di Apple pada grup proyek khusus yang diduga kuat mengerjakan mobil otonom sebelum dibubarkan pada 2024.
Derbas lalu mendirikan Maven bersama saudaranya, Khalid, yang menjabat CFO setelah berkarier di private equity. Latar belakang ini yang membuat Maven berbeda dari perusahaan robotika lain yang biasanya berbasis budaya riset.
Robot Maven bekerja di pusat distribusi dengan tugas utama mixed palletizing. Palet kayu berisi barang kotak dari berbagai pabrik datang ke gudang, lalu robot menyusun palet baru berisi campuran produk yang akan dikirim ke toko ritel.
Derbas menjelaskan bahwa perusahaan consumer goods ingin mengubah komposisi produk di rak berdasarkan permintaan real-time dalam 48 jam setelah barang dipajang. Pesanan campuran itu saat ini masih dikerjakan tenaga manusia yang berkeliling gudang memilih satu per satu produk.
Di fasilitas Maven di Santa Clara, robot bergerak mulus di area pelatihan, menggunakan vacuum sucker untuk mengambil dan menata kotak dengan kecepatan wajar. Layar video live menampilkan dua robot bekerja di fasilitas pelanggan sementara karyawan berjalan di sekitarnya.
Pada 2024, Maven masih perusahaan baru tanpa produk jadi. Derbas menyebut mereka hanya punya "kartun robot dan sekelompok orang". Meski begitu, mereka mendengar ada perusahaan consumer goods besar dengan kebutuhan logistik yang sedang berkunjung ke kota untuk bertemu empat perusahaan robot pesaing.
Derbas berhasil masuk ke pertemuan itu dan meminta izin mengunjungi pabrik serta gudang perusahaan tersebut. Ia lalu mempelajari alur kerja yang bisa segera diberi nilai tambah.
Maven memenangkan deal itu meski bersaing dengan perusahaan yang sudah punya robot. Setelah dua tahun bekerja dengan perusahaan tersebut dan beberapa mitra lain, Maven kini mengoperasikan hingga delapan robot.
Jack Pearson, investor di RoboStrategy yang mendanai Maven, menilai keunggulan perusahaan ini terletak pada latar belakang sistem industri, bukan budaya riset yang fokus pada pembelajaran atau arsitektur tertentu.
Agility, perusahaan robotika yang akan melantai di bursa musim gugur ini lewat kesepakatan SPAC senilai USD 2,4 miliar (sekitar Rp 39,6 triliun), disebut sebagai pesaing paling mirip. Namun robot Agility berdiri di atas dua kaki.
Derbas mengaku menghormati Agility, tetapi menilai robot berkaki dua "tidak masuk akal untuk apa pun yang mereka kerjakan" karena sangat kompleks, tidak andal, dan menambah biaya yang tidak perlu. Menurutnya, ROI adalah kunci di sektor ini.
Pasar palletizing disebut bernilai USD 80 miliar (sekitar Rp 1.320 triliun). Untuk memperluas ke alur kerja berikutnya, Maven perlu membangun semacam budaya riset karena tugas-tugas baru menuntut kemampuan manipulasi robotik yang belum ada.
Dorongan besar Maven selanjutnya adalah mengumpulkan lebih banyak data dan melatih robot agar bisa menangani material, lalu bergerak menuju otomasi dan fabrikasi. Perusahaan mengembangkan sarung tangan mirip capit agar manusia bisa meniru bentuk gripper yang diinginkan.
Meski memasarkan diri sebagai pembuat robot serbaguna, strategi Maven adalah mengerjakan tugas satu per satu menuju tujuan itu.
Derbas menegaskan bahwa fokus pada penyelesaian masalah pelanggan satu per satu adalah kunci. Jika memilih masalah berukuran besar, setiap masalah adalah pasar bernilai miliaran dolar dengan data yang cukup untuk menguasainya.